Jakarta, MAHATVA.ID – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2025–2030 resmi dikukuhkan pada Jumat (3/10/2025) di Auditorium Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Prosesi pengukuhan berlangsung penuh optimisme sebagai penanda semangat baru dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Dalam kepengurusan kali ini, Sudaryono dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum, sementara posisi Sekretaris Jenderal diamanahkan kepada Abdul Kadir Karding.

Salah satu nama yang menarik perhatian adalah Muhammad Sirod, yang diumumkan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (WaSekJend) Bidang Gizi, mendampingi Onny Jafar Hafsah sebagai ketua bidang. Bidang gizi dipandang sangat strategis karena menjadi penghubung antara petani sebagai produsen pangan dengan konsumen akhir dalam rantai pasok.

Ketua Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menargetkan terbentuknya 80 ribu titik SPPG (Sarana Pangan dan Gizi) di seluruh Indonesia. Dalam kerangka itu, peran WaSekJend Gizi menjadi penting untuk memperkuat keterhubungan antara produksi pangan dengan peningkatan konsumsi gizi masyarakat.

Muhammad Sirod, lulusan sarjana Teknologi Pertanian IPB, dikenal aktif dalam advokasi petani. Pengalaman akademis dan keterlibatannya di lapangan diyakini menjadi modal penting untuk menjembatani isu gizi dan pertanian agar lebih terarah.

Kehadiran sejumlah pejabat setingkat wakil menteri dalam jajaran wakil ketua umum juga menandai keseriusan HKTI untuk bersinergi dengan pemerintah pusat. Dengan kombinasi teknokrat, aktivis, dan pejabat negara, HKTI 2025–2030 menargetkan lahirnya kebijakan yang berpihak pada petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sirod sendiri dikenal dekat dengan Rahmat Pambudy, tokoh senior pertanian yang pernah menjabat Sekjen HKTI dan kini menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina. Rahmat Pambudy dikenal sebagai mentor bagi generasi muda HKTI, termasuk Sirod, dalam membangun pertanian modern yang berpijak pada kekuatan petani.

Dengan komposisi baru ini, HKTI optimis menjadi wadah strategis dalam membumikan kebijakan pertanian dan gizi secara simultan. Harapannya, petani tidak hanya produktif menghasilkan pangan, tetapi juga terhubung dengan sistem gizi nasional demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih sehat.