Bogor, MAHATVA.ID – Pendidikan tak mengenal batas, bahkan jeruji besi tak mampu menghentikan semangat untuk terus belajar. Hal ini tercermin di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong, atau yang akrab dikenal dengan Lapas Pondok Rajeg, di mana sebanyak 11 warga binaan kini aktif mengikuti program pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Kamis (02/10/2025).
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Lapas Cibinong dengan Yayasan Bina Insan Mandiri (Sekolah Master Indonesia) Depok, yang menyediakan pendidikan setara SD (Paket A), SMP (Paket B), dan SMA (Paket C). Inisiatif ini menjadi bagian penting dari strategi pembinaan yang berfokus pada pendidikan sebagai pintu menuju masa depan yang lebih baik.
Kalapas Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menegaskan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari proses pembinaan di dalam lapas.
“Kami ingin memberikan kesempatan kedua bagi warga binaan untuk menata kembali hidupnya. Pendidikan adalah kunci agar mereka bisa kembali ke masyarakat dengan lebih siap, mandiri, dan berdaya,” ujarnya.
Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara rutin di ruang kelas khusus yang telah disiapkan di dalam lapas, dengan pendampingan tutor profesional dari PKBM. Suasana belajar berlangsung penuh semangat dan optimisme, menciptakan lingkungan positif yang memotivasi warga binaan untuk terus berkembang.
Salah satu peserta, sebut saja V, yang saat ini mengikuti Paket B, mengungkapkan rasa syukurnya bisa kembali merasakan bangku pendidikan meski tengah menjalani masa pidana.
“Saya merasa seperti diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki masa depan. Walaupun berada di dalam lapas, saya tetap bisa belajar. Harapan saya, setelah keluar nanti bisa melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita yang tertunda,” tuturnya dengan haru.
Tak hanya warga binaan, para pengajar pun merasakan pengalaman berharga. Salah satu tutor PKBM dari Sekolah Master Depok, Rayhan, menyampaikan rasa bangganya bisa turut berkontribusi dalam proses pembinaan.
“Mengajar di dalam lapas memberikan pengalaman berbeda. Saya melihat langsung semangat belajar mereka begitu tinggi, meski dalam keterbatasan. Kami percaya, pendidikan adalah hak semua orang, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari perubahan positif ini,” ujarnya.




