BOGOR, MAHATVA.ID – Kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis muda Andrie Yunus memicu keprihatinan dari berbagai kalangan masyarakat sipil. Peristiwa tersebut dinilai tidak hanya sebagai tindak kriminal semata, tetapi juga menjadi indikator serius bagi kualitas demokrasi di Indonesia.
Koordinator Pusat Forum Cendekiawan Muda Indonesia (FORCEMI), Ramdhan Agung Giri Nugroho, menyatakan bahwa kekerasan terhadap individu yang aktif menyuarakan gagasan di ruang publik dapat berdampak luas terhadap kehidupan demokrasi.
“Jika kekerasan seperti ini dibiarkan tanpa pengungkapan yang jelas dan transparan, maka yang terancam bukan hanya keselamatan individu, tetapi juga ruang kebebasan sipil yang menjadi fondasi demokrasi,” ujar Ramdhan dalam keterangannya kepada media.
Menurutnya, demokrasi tidak hanya diukur dari keberadaan pemilu, tetapi juga dari jaminan keamanan bagi warga negara dalam menyampaikan kritik, gagasan, dan aspirasi tanpa ancaman kekerasan.
Ia menilai, dalam perspektif akademik ilmu politik, serangan terhadap aktor masyarakat sipil sering menjadi tanda awal dari menyempitnya ruang demokrasi.
“Dalam perspektif akademik ilmu politik, serangan terhadap aktor masyarakat sipil sering menjadi gejala awal dari penyempitan ruang demokrasi. Karena itu, kasus ini harus dipahami sebagai alarm dini yang perlu ditanggapi secara serius oleh negara,” lanjutnya.
Ramdhan juga menyampaikan dukungan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar mengusut tuntas kasus tersebut secara profesional, transparan, dan akuntabel.
“Kami percaya Polri memiliki kapasitas dan kewenangan untuk mengungkap kasus ini secara menyeluruh. Proses penyelidikan yang transparan sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan bahwa tidak ada ruang bagi impunitas terhadap pelaku kekerasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, penegakan hukum yang cepat dan terbuka akan menjadi pesan kuat bahwa negara hadir melindungi warga negara serta menjamin keamanan bagi setiap orang yang berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.




