Jakarta, MAHATVA.ID Ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai menjadi ujian serius bagi stabilitas ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.

Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Dewan Pakar Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia, Muhammad Sirod, mengatakan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah menunjukkan perubahan struktur geopolitik global yang semakin kompleks.

Menurutnya, persaingan kekuatan besar kini kembali menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional, terutama dalam perebutan kepentingan strategis seperti energi, teknologi, dan keamanan kawasan.

“Perubahan ini tentu berdampak pada negara yang terintegrasi dalam ekonomi global, termasuk Indonesia. Stabilitas energi, perdagangan, hingga sistem keuangan domestik sangat dipengaruhi dinamika geopolitik tersebut,” ujar Muhammad Sirod dalam keterangannya.

Ketegangan Timur Tengah Picu Risiko Energi

Muhammad Sirod menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah memiliki posisi strategis dalam sistem energi dunia. Setiap gangguan stabilitas di kawasan tersebut hampir selalu memicu kenaikan harga minyak global.

Situasi ini menjadi perhatian bagi banyak negara pengimpor energi, termasuk Indonesia yang dalam satu dekade terakhir berstatus sebagai net importer minyak.

Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi energi nasional meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.

Di sisi lain, cadangan energi nasional juga masih terbatas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa kapasitas cadangan BBM nasional saat ini berkisar sekitar 20 hingga 23 hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.