Jakarta, MAHATVA.ID – Industri hulu minyak dan gas (migas) Indonesia tengah menghadapi tantangan serius di tengah gangguan operasional di sejumlah wilayah kerja serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memicu ketidakpastian energi dunia.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut kondisi tersebut sebagai fase yang tidak mudah bagi industri energi nasional. Hal itu disampaikannya dalam acara buka puasa bersama Guspenmigas di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

“Kalau kita melihat kondisi industri hulu migas hari-hari ini, kita sedang berada dalam fase yang tidak mudah,” ujar Djoko.

Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir industri migas nasional harus menghadapi sejumlah insiden teknis yang berdampak pada produksi minyak.

Gangguan tersebut antara lain kebocoran pipa di wilayah kerja Cepu dan Bawean, pecahnya pipa gas milik Transportasi Gas Indonesia (TGI), hingga terganggunya pasokan listrik dari pembangkit North Duri Cogeneration (NDC) milik MCTN yang menyuplai energi untuk operasi migas di wilayah Rokan.

Rangkaian gangguan tersebut menyebabkan produksi minyak nasional mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Padahal, pada saat yang sama pemerintah tengah mendorong peningkatan lifting minyak dan gas guna menjaga ketahanan energi nasional.

“Ini bukan sekadar angka produksi atau target lifting. Ini menyangkut energi nasional, ekonomi, bahkan bisa berdampak pada rumah tangga,” kata Djoko.

Dampak Ketegangan Timur Tengah