MAHATVA.ID - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini merilis laporan mengenai prospek urbanisasi global. Dalam laporan tersebut, Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai kota terbesar di dunia dengan jumlah penduduk mencapai 41,9 juta jiwa.
Laporan ini kemudian disanggah oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo.
Kyodo, pada Kamis (1/1/2026), mengutip laporan PBB, melaporkan pertumbuhan populasi ibu kota Jepang lebih lambat dibandingkan Jakarta dan Dhaka. Akibatnya, peringkat Tokyo sebagai salah satu kota dengan jumlah penduduk terpadat di dunia turun dari posisi pertama pada 2000 menjadi peringkat ketiga pada 2025, merujuk PBB yang menggunakan metode penilaian khusus untuk memudahkan perbandingan internasional.
Ke depan, jumlah penduduk kawasan perkotaan Tokyo diperkirakan menyusut dari 33,4 juta jiwa pada 2025 menjadi 30,7 juta jiwa pada 2050. Dengan penurunan tersebut, Tokyo diproyeksikan turun ke peringkat ketujuh.
Sementara itu, Dhaka diperkirakan menjadi kota terbesar di dunia dengan 52,1 juta penduduk, diikuti Jakarta, Shanghai, New Delhi, Karachi, dan Kairo.
Merujuk laporan PBB itu, istilah “kota” didefinisikan sebagai setiap aglomerasi wilayah geografis yang saling berdekatan dengan kepadatan minimal 1.500 penduduk per kilometer persegi dan total populasi sedikitnya 50 ribu jiwa.
Berdasarkan metodologi yang digunakan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (DESA), perhitungan untuk Tokyo hanya mencakup kawasan perkotaan, termasuk wilayah perkotaan di prefektur tetangga seperti Saitama, Chiba, dan Kanagawa. Sementara itu, jumlah penduduk resmi wilayah administratif Tokyo sekitar 14 juta jiwa.
Estimasi jumlah penduduk itu bertujuan untuk menyediakan data bagi para pembuat kebijakan dan peneliti dalam merancang masa depan perkotaan, di mana kemampuan mengelola pertumbuhan kota secara berkelanjutan dinilai penting, tidak hanya bagi penduduk perkotaan tetapi juga bagi kemajuan global dalam mencapai target iklim.
Laporan tersebut mencatat bahwa dunia semakin terurbanisasi dengan kota-kota kini menjadi tempat tinggal bagi sekitar 45 persen dari total 8,2 miliar penduduk dunia. Jumlah saat ini telah mencapai lebih dari dua kali lipat proporsinya pada 1950.




