MAHATVA.ID -Tokoh masyarakat Desa Sofyanin, Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Lambertus Siarmasa, menyatakan bahwa semangat perubahan kini mulai tumbuh dari akar masyarakat. Respons positif warga terhadap berbagai gagasan pembangunan menjadi sinyal kuat bangkitnya kesadaran kolektif untuk bersatu demi masa depan Sofyanin yang lebih bermartabat, Rabu (25/3/2026)
Dalam keterangannya, Siarmasa menilai bahwa gelombang kesadaran baru yang muncul di tengah masyarakat satu tana adat Sofyanin bukan sekadar dinamika biasa, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan negeri.
“Pendapat dan argumen yang berkembang hari ini menunjukkan bahwa orang Sofyanin mulai membuka diri. Ini tanda ada kemauan untuk berubah dan maju bersama,” ujarnya.
Ia juga merefleksikan dinamika sosial di masa lalu, di mana perbedaan pandangan antar tokoh besar pernah terjadi. Namun menurutnya, pengalaman itu justru menjadi pelajaran penting bahwa perbedaan tidak boleh memecah belah, melainkan harus menjadi dasar kedewasaan dalam membangun persatuan.
Lebih jauh, Siarmasa mengisahkan perjuangan generasi terdahulu dalam dunia pendidikan. Dengan segala keterbatasan, semangat mencerdaskan anak negeri tetap dijaga. Bahkan, sebagai pendidik, ia mengaku pernah berupaya meluluskan siswa dengan tingkat kelulusan 100 persen setiap tahun.
“Bagi saya, itu bukan sekadar angka. Itu adalah harapan, agar anak-anak Sofyanin bisa melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, dan suatu saat mengisi posisi strategis di pemerintahan maupun swasta,” ungkapnya.
Namun realitas yang terjadi tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan tersebut. Banyak lulusan yang tidak mampu melanjutkan pendidikan atau menembus dunia kerja. Hal ini, menurut Labert, menjadi persoalan serius yang perlu direnungkan bersama.
Ia mengangkat istilah “SIFAKIFAN” sebagai salah satu persoalan mendasar yang diduga menghambat kemajuan, di samping faktor ekonomi keluarga dan minimnya perhatian dari tokoh-tokoh pada masa lalu dalam mendorong keberlanjutan generasi.
“Kadang saya sedih. Begitu banyak anak yang sudah disiapkan, tapi tidak ada yang melanjutkan. Padahal tujuan kita jelas: menciptakan generasi yang bisa masuk birokrasi, punya pekerjaan layak, dan membawa perubahan,” katanya.




