MAHATVA.ID -Setelah lebih dari lima dekade vakum, Pemerintah Desa Sofyanin, Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, akhirnya berhasil menghidupkan kembali pentas adat “Tnabar Ilaa”, sebuah warisan budaya luhur yang terakhir kali dipentaskan pada tahun 1972 di Desa Watidal dalam perhelatan adat Ridwal Tabar.
Kebangkitan budaya ini dipandang sebagai tonggak penting perjalanan masyarakat Sofyanin dalam menjaga identitas adat sekaligus mengalirkan nilai-nilai luhur leluhur kepada generasi penerus. “Kita bersyukur, setelah sekian lama terhenti, akhirnya budaya Tnabar Ilaa dapat dihidupkan kembali sebagai roh adat yang meneguhkan jati diri kita sebagai anak Tanimbar,” tegas Kepala Desa Sofyanin dalam sambutannya.
Sejarah mencatat, generasi pelaku adat pada masa itu secara perlahan berpulang ke hadirat Tuhan, sehingga warisan Tnabar Ilaa sempat hilang dari panggung kehidupan masyarakat Sofyanin.
Namun berkat kerja keras pemerintah desa bersama para tetua adat dan tokoh masyarakat, tarian tersebut kini lahir kembali untuk dipersembahkan kepada generasi muda sebagai pewaris sah budaya Fordata.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, kehadiran Ibu Aleksanderina Lalin menjadi anugerah yang tak ternilai. Beliau adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih diberikan umur panjang untuk tetap menghayati dan menjaga jejak luhur Tnabar Ilaa, setelah para pelaku adat generasi terdahulu berpulang ke hadirat Tuhan.
Terlepas dari itu, dengan keteguhan hati, beliau tidak hanya menyimpan kenangan akan masa kejayaan pentas adat tersebut, tetapi juga dengan penuh tanggung jawab menyalurkan kembali gerak, nilai, irama dan makna tarian kepada generasi penerus.
“Saya masih menyaksikan dan mengalami pentas Tnabar Ilaa di masa lalu. Kini, dengan penuh kerinduan, saya membantu mengajarkan kembali tarian ini agar anak cucu kita tidak kehilangan jejak adat leluhur,” ungkapnya penuh haru.
Lebih lanjut, Kehadiran beliau ibarat jembatan emas yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, memastikan roh adat Tanimbar di desa Sofyanin tetap hidup, menyala, dan diwariskan secara utuh di hati anak cucu negeri.
Revitalisasi ini tidak hanya dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga sebagai upaya strategis memperkuat ikatan Pela antar-desa. Desa Sofyanin menegaskan tekadnya untuk menjadikan Tnabar Ilaa sebagai media kebersamaan, gotong royong, dan perekat persaudaraan adat, sebagaimana nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.




