Jakarta, MAHATVA.ID – TNI Angkatan Laut (TNI AL) memperkuat latihan operasi anti-akses dan anti-area denial (A2/AD) sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan wilayah perairan nasional sekaligus mencegah penyelundupan sumber daya alam strategis dari Indonesia ke luar negeri.
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, mengatakan latihan tersebut menjadi bentuk kontribusi konkret TNI AL dalam mendukung perintah Presiden untuk memperkuat penegakan hukum di laut.
“Beberapa waktu lalu TNI Angkatan Laut melaksanakan latihan operasi anti-akses dan latihan operasi anti-area denial,” kata Yayan saat pelepasan keberangkatan program mudik gratis menggunakan KRI Semarang-594 di Dermaga Kolinlamil, Jakarta Utara, Minggu.
Yayan menjelaskan, konsep operasi anti-akses pada dasarnya dirancang untuk mengantisipasi jalur logistik pihak lawan dalam situasi konflik. Namun dalam kondisi damai, konsep tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memutus jalur distribusi kegiatan ilegal di laut.
“Operasi anti-akses ini untuk mengantisipasi jalur logistik musuh. Namun dalam situasi damai juga dapat digunakan untuk memutus akses kegiatan ilegal yang membawa material strategis dari dalam negeri untuk diselundupkan ke luar,” ujarnya.
Menurut Yayan, wilayah Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam operasi tersebut karena memiliki sumber daya alam strategis, terutama komoditas timah yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Ia menyebutkan, selama periode 2025 hingga 2026, TNI AL telah mengerahkan sedikitnya 28 kapal perang (KRI) untuk melakukan patroli dan penyekatan pengamanan di wilayah perairan tersebut.
“Selama tahun 2025 sampai dengan 2026 tidak kurang dari 28 KRI telah melaksanakan penyekatan di perairan Bangka Belitung,” katanya.
Dari rangkaian operasi tersebut, aparat TNI AL berhasil menyelamatkan sekitar 448 ton timah dari upaya penyelundupan ke luar negeri dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp146 miliar.




