MAHATVA.ID - Dinamika geopolitik global kembali memperlihatkan wajah kerasnya. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, terlibat langsung dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro—sebuah tindakan yang oleh banyak pengamat internasional dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip kedaulatan negara dan tatanan hukum internasional.

Pada saat yang hampir bersamaan, Trump juga menghidupkan kembali wacana penguasaan Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, dengan dalih kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Pernyataan tersebut tidak berhenti pada tataran retorika. Ia segera memicu eskalasi politik dan keamanan, termasuk peningkatan kehadiran militer negara-negara Eropa di kawasan Arktik.

Sekilas, kedua peristiwa ini tampak berdiri sendiri dan terjadi jauh dari kepentingan langsung Indonesia. Namun jika dicermati lebih dalam, keduanya memperlihatkan pola yang sama: menguatnya praktik unilateralisme dan penggunaan kekuatan secara koersif oleh negara besar dalam memperjuangkan kepentingan strategisnya. Dalam konteks inilah, Venezuela dan Greenland menjadi relevan dibaca sebagai cermin tantangan ketahanan nasional Indonesia di tengah tatanan global yang semakin cair dan sulit diprediksi.

Logika Kekuasaan Negara Adidaya

Dalam perspektif teori hubungan internasional, khususnya realisme struktural, negara adidaya cenderung memaksimalkan seluruh instrumen kekuatannya—militer, ekonomi, dan politik—demi menjaga dominasi dan pengaruh global. Operasi Amerika Serikat di Venezuela menunjukkan bagaimana logika tersebut bekerja secara ekstrem, ketika prinsip kedaulatan dan mekanisme multilateral dapat dikesampingkan jika dianggap menghambat kepentingan strategis.

Penangkapan kepala negara berdaulat tanpa mandat internasional yang jelas bukan hanya menciptakan preseden berbahaya, tetapi juga melemahkan kepercayaan terhadap tatanan hukum internasional yang selama ini menjadi rujukan bersama.

Kasus Greenland memperlihatkan wajah lain dari logika yang sama. Letak geografisnya yang strategis, kekayaan sumber daya alam, serta implikasinya terhadap jalur perdagangan dan pertahanan global menjadikan wilayah tersebut sebagai objek kompetisi geopolitik. Pernyataan bahwa Greenland “diperlukan” demi keamanan nasional Amerika Serikat telah mengguncang hubungan transatlantik dan mendorong negara-negara Eropa meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Arktik.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahkan di dalam lingkaran aliansi sekalipun, relasi kekuasaan tetap bekerja secara asimetris. Kedaulatan negara—termasuk milik sekutu—tidak selalu dihormati secara setara ketika berhadapan dengan kepentingan strategis kekuatan besar.

Implikasi bagi Ketahanan Nasional Indonesia