Banda Aceh, MAHATVA.ID – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Ferdiyus memaparkan kondisi darurat layanan kesehatan pascabanjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers di Media Center Kemkomdigi, Kantor Gubernur Aceh, Senin (8/12/2025).

Ferdiyus menjelaskan bahwa sejak banjir mulai meluas pada 26–28 November 2025, jajaran kesehatan provinsi langsung bergerak cepat melakukan koordinasi, penilaian situasi, hingga pendistribusian bantuan kesehatan penting.

“Kondisi kritis mulai terlihat pada Rabu malam, 26 November. Laporan banjir masuk dari berbagai daerah. Kami langsung mengumpulkan tim instalasi farmasi dan tim program. Komunikasi dengan 23 kabupaten/kota berjalan untuk memetakan mana saja wilayah yang terdampak,” ujarnya.

Status Darurat Ditetapkan, Aceh Ajukan Kebutuhan BMHP

Pada 27 November, pimpinan Pemerintah Aceh memanggil jajaran dinas untuk merumuskan langkah darurat. Sehari kemudian, status darurat bencana ditetapkan. Dinkes Aceh langsung mengajukan kebutuhan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) untuk seluruh daerah terdampak.

Dampak banjir terhadap fasilitas kesehatan, kata Ferdiyus, sangat serius. Dari total 336 Puskesmas, sebanyak 54 Puskesmas tidak dapat beroperasi. Kerusakan itu tersebar di tujuh kabupaten/kota terdampak berat.

Selain itu, 21 dari 23 kabupaten/kota ikut terdampak langsung banjir, dengan beberapa wilayah mengalami kelumpuhan total layanan kesehatan.

“Pidie Jaya benar-benar lumpuh. Pegawai rumah sakit terdampak, fasilitas terendam, rumah sakit tidak bisa operasional,” tegasnya.

Tim Nakes Diambil Alih untuk Selamatkan Layanan IGD