MAHATVA.ID – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya demonstrasi besar-besaran di Iran serta memanasnya ketegangan regional. Langkah ini memicu spekulasi adanya kemungkinan aksi militer AS terhadap Teheran dalam waktu dekat.
Jika skenario tersebut benar terjadi, serangan militer AS ke Iran sejatinya bukan hal baru. Sekitar empat dekade lalu, Amerika Serikat pernah melancarkan operasi militer rahasia ke Iran. Namun, alih-alih sukses, misi tersebut justru berakhir dengan kegagalan total dan tercatat sebagai salah satu episode paling memalukan dalam sejarah militer AS di Timur Tengah.
Kisah kelam itu bermula pada 4 November 1979, ketika sekelompok mahasiswa revolusioner Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran. Dalam peristiwa tersebut, 53 diplomat dan warga negara AS ditangkap dan dijadikan sandera.
Upaya diplomasi untuk membebaskan para sandera tak membuahkan hasil. Situasi ini mendorong Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, untuk menyetujui operasi penyelamatan sandera secara militer. Pada 16 April 1980, Carter mengesahkan misi rahasia dengan sandi Operasi Eagle Claw.
Mengutip situs Britannica, Operasi Eagle Claw melibatkan empat matra militer AS dengan sekitar 130 personel elite. Misi ini didukung oleh delapan helikopter RH-53D Sea Stallion, enam pesawat C-130 Hercules, satu kapal induk, serta pesawat evakuasi strategis C-141 Starlifter.
Rencananya, enam pesawat C-130 akan membawa pasukan Delta Force dari Oman menuju titik pendaratan rahasia di gurun Iran yang diberi sandi Desert One. Di lokasi tersebut, mereka akan bertemu delapan helikopter yang lepas landas dari kapal induk USS Nimitz di Laut Arab untuk mengisi bahan bakar, sebelum bergerak mendekati Teheran.
Pada malam berikutnya, pasukan Delta Force dijadwalkan menyusup ke ibu kota Iran, menyerbu Kedutaan Besar AS, dan membebaskan para sandera. Secara bersamaan, pasukan Ranger Angkatan Darat AS akan merebut sebuah bandara di sekitar Teheran sebagai titik evakuasi. Seluruh sandera dan pasukan kemudian direncanakan diterbangkan keluar Iran menggunakan pesawat C-141.
Namun, pada pelaksanaan 24 April 1980, rencana ambisius itu runtuh total. Laporan berjudul “Crisis in Iran: Operation Eagle Claw” mengungkap, sejumlah helikopter dihantam badai pasir dan mengalami gangguan teknis. Dua helikopter rusak parah, sementara enam lainnya mengalami keterlambatan.
Setibanya di Desert One, satu helikopter tambahan dinyatakan tidak layak terbang. Jumlah armada pun tidak memenuhi syarat minimal operasi, sehingga misi resmi dibatalkan. Tragedi belum berhenti di situ. Saat proses penarikan pasukan, sebuah helikopter bertabrakan dengan pesawat C-130 yang tengah mengisi bahan bakar, memicu ledakan hebat.


