MAHATVA.ID - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Suyudi Ario Seto bersama jajaran pejabat madya dan pratama BNN menggelar audiensi dengan Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Makhruzi Rahman, Senin (15/12), di Kantor BNPP, Jakarta Pusat.
Pertemuan tersebut menitikberatkan pembahasan pada isu strategis pengelolaan wilayah perbatasan yang kerap dimanfaatkan sebagai jalur penyelundupan narkotika.
Dalam forum itu, Kepala BNN RI menegaskan bahwa kawasan perbatasan, baik darat maupun laut, masih menjadi titik rawan masuknya narkotika ke Indonesia.
Kondisi tersebut menuntut pengawasan lintas sektor yang lebih terintegrasi karena banyak kasus peredaran gelap narkotika terungkap di wilayah perbatasan negara.
"Perbatasan menjadi potensi utama masuknya narkotika ke Indonesia, banyak pengungkapan kasus yang Kami dapatkan di wilayah perbatasan," ungkap Kepala BNN RI.
Ia menilai ancaman narkotika di jalur perbatasan, termasuk jalur resmi dan jalur ilegal, merupakan tantangan bersama yang harus dihadapi seluruh pemangku kebijakan.
Karena itu, diperlukan penguatan sinergi antara BNN dan BNPP guna menutup celah-celah rawan penyelundupan, terutama pada jalur tikus yang selama ini sulit diawasi.
"Mari Kita lakukan upaya kolaborasi. Saya berharap agar celah-celah jalur tikus di perbatasan dapat dilakukan dengan upaya penanganan yang lebih serius dan kolaboratif," pesannya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris BNPP menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan BNN. Salah satu langkah konkret yang ditawarkan adalah penyediaan ruang khusus bagi petugas BNN di setiap Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sebagai implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati pada 2024.




