MAHATVA.ID – Lebih dari 350 tahun lalu, tsunami dahsyat pernah menghantam Ambon. Gelombang setinggi 90-110 meter menerjang pesisir setelah gempa besar berkekuatan M 7,9 mengguncang wilayah tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa dan tsunami di masa depan.
Tragedi yang terjadi pada 17 Februari 1674 ini meninggalkan dampak mengerikan. Tanah terbelah, bukit runtuh, dan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang melanda pesisir Utara Pulau Ambon serta Semenanjung Hitu. Ilmuwan Belanda, Georg Eberhard Rumphius (1627-1702), mencatat peristiwa tersebut sebagai salah satu bencana paling mematikan pada masa kolonial.
“Kekuatan gempa saat itu mengakibatkan tsunami dahsyat, terutama di pesisir Utara Pulau Ambon,” ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam webinar Peringatan Tsunami Ambon 1674: Sepenggal Kisah Berharga Zaman Kolonial, Bekal Menuju Ambon Tsunami Ready, baru-baru ini.
Maluku, Wilayah Rawan Gempa dan Tsunami
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa Maluku merupakan wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Banyak sumber gempa di sekitar wilayah ini, sehingga potensi bencana serupa masih bisa terjadi di masa mendatang.
“Pembangunan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat harus menjadi program berkelanjutan di Ambon dan sekitarnya,” kata Daryono.
Ketua Tim Mitigasi Tsunami Samudera Hindia dan Pasifik BMKG, Suci Dewi Anugrah, juga menambahkan bahwa BMKG terus mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami serta melakukan pendampingan kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana.
“Kami ingin mewujudkan Tsunami Ready Community, yaitu masyarakat yang memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman tsunami,” jelasnya.

.png)