MAHATVA.ID – Pemerintah China secara resmi menyatakan sikap tegas terkait dinamika politik di Iran setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei. Beijing menegaskan dukungan penuh terhadap kedaulatan Iran serta menolak segala bentuk ancaman terhadap pemimpin baru negara tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru. Keputusan tersebut diambil tidak lama setelah Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan sikap resmi Beijing dalam konferensi pers di Beijing pada Senin (9/3/2026). Ia menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei merupakan keputusan internal Iran yang sah berdasarkan konstitusi negara tersebut.
“Keputusan Iran untuk menunjuk Khamenei muda didasarkan pada konstitusinya,” ujar Guo Jiakun seperti dikutip dari AFP.
Sikap China tersebut sekaligus menjadi sinyal peringatan kepada Amerika Serikat dan Israel. Sebelumnya, militer Israel sempat mengeluarkan ancaman terbuka untuk menargetkan siapa pun yang menjadi penerus Ali Khamenei di posisi pemimpin tertinggi Iran.
Guo Jiakun menegaskan bahwa Beijing menolak keras segala bentuk intervensi asing yang berpotensi mengganggu stabilitas politik Iran. Ia juga meminta komunitas internasional untuk menghormati kedaulatan negara tersebut di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“China menentang campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain dengan dalih apa pun, dan kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah Iran harus dihormati,” tegasnya.
Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri semakin memanas setelah Israel dan Amerika Serikat terus melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir. Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran yang membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan pesawat tanpa awak ke wilayah Israel.
Selain itu, Iran juga dilaporkan menyasar sejumlah negara tetangga di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer pasukan Amerika Serikat. Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran dunia internasional akan potensi pecahnya perang berskala besar yang dapat melibatkan berbagai kekuatan global.




