SAUMLAKI, MAHATVA.ID -Cuaca laut ekstrem akibat gelombang tinggi dan angin kencang mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi di wilayah Kepulauan Tanimbar, Maluku. Tak hanya mengancam keselamatan pelayaran, kondisi ini juga membuat nelayan gagal melaut, sehingga pasokan ikan segar di Pasar Ikan Saumlaki menurun drastis sejak dua hari terakhir, Sabtu (2/8/2025).
Nelayan di Saumlaki dan Larat memilih menghentikan aktivitas melaut karena cuaca yang dianggap terlalu berbahaya. “Sudah dua hari kami tidak turun ke laut. Ombaknya tinggi dan anginnya kencang, sangat berisiko,” kata Damianus, seorang nelayan asal Saumlaki.
Dampak cuaca ekstrem terhadap ekonomi lokal langsung terasa. Meski pasokan ikan menurun, namun pantauan langsung di Pasar Saumlaki menunjukkan bahwa harga ikan segar seperti kakap, cakalang, dan ikan potong masih stabil. “Pasokan memang berkurang, tapi harga belum naik karena stok kemarin masih cukup,” ujar Heri, salah satu pedagang ikan.
BMKG dan Otoritas Syahbandar Saumlaki sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang laut tinggi yang diperkirakan terjadi hingga 4 Agustus 2025. Warga, nelayan tradisional, serta operator kapal ferry dan logistik diimbau untuk tidak memaksakan aktivitas pelayaran, demi menjaga keselamatan di laut.
Selain itu, Cuaca ekstrem di perairan timur Indonesia diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, BMKG meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca maritim terbaru, dan memperhatikan peringatan resmi sebagai langkah preventif menghadapi risiko laut yang tidak bersahabat.


