Bogor, MAHATVA.ID – Media sosial dalam beberapa waktu terakhir diramaikan perseteruan panas antara netizen dan netizen dari berbagai negara . Perdebatan yang awalnya bermula dari isu etika fandom dalam sebuah acara musik berkembang cepat menjadi konflik lintas negara yang sarat muatan emosional dan identitas kolektif.

Dalam hitungan jam, diskusi yang semula bersifat teknis berubah menjadi perang narasi, meme, hingga saling hujat yang menyasar fisik, kondisi ekonomi, dan stereotip budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik digital tidak lagi sekadar fanwar, melainkan telah bertransformasi menjadi konflik berbasis identitas.

Identitas Kolektif dan Eskalasi Konflik Digital

Ketika percakapan di media sosial tidak lagi membahas individu, melainkan berubah menjadi dikotomi “kami” versus “mereka”, konflik telah memasuki ranah identity-based conflict. Identitas nasional dan regional menjadi simbol yang dipertaruhkan, memicu solidaritas kolektif di kalangan netizen Asia Tenggara yang kemudian dikenal dengan istilah SEAblings.

Dalam perspektif studi perdamaian, konflik semacam ini mencerminkan apa yang disebut sebagai kekerasan kultural, di mana stereotip, penghinaan simbolik, dan generalisasi terhadap kelompok lain menjadi bentuk kekerasan non-fisik yang memperkuat legitimasi konflik.

Media sosial mempercepat aktivasi identitas kelompok tersebut. Ancaman terhadap harga diri kolektif, meski hanya berupa komentar daring, mampu memicu respons emosional massal dan solidaritas lintas negara dalam waktu singkat.

Peran Algoritma dalam Memperbesar Ketegangan

Selain faktor identitas, struktur algoritma media sosial turut berperan sebagai akselerator konflik. Konten bernuansa emosi negatif—amarah, sindiran, dan provokasi—cenderung mendapatkan atensi lebih besar karena memicu interaksi tinggi. Akibatnya, unggahan provokatif menyebar lebih luas dibandingkan narasi yang menenangkan.

Fenomena echo chamber pun tak terhindarkan. Komunitas digital berbasis tagar berkembang menjadi kelompok terpolarisasi, di mana opini internal saling menguatkan dan memperkeras batas dengan kelompok lain. Dalam konteks konflik netizen lintas negara, situasi ini membuat eskalasi berlangsung cepat dan sulit dikendalikan.