MAHATVA.ID – Djayeng Tirto, dosen ahli di bidang resolusi konflik dan perdamaian, memberikan paparan strategis dalam acara Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan oleh Program Studi Damai dan Resolusi Konflik (DRK) Universitas Pertahanan (UNHAN) di Kelurahan Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat setempat, perangkat kelurahan, serta mahasiswa DRK UNHAN.
Dalam paparannya, Djayeng Tirto menekankan pentingnya budaya damai dan pendekatan non-kekerasan dalam mengelola konflik sosial.
“Konflik bukanlah akhir dari segalanya, melainkan peluang untuk membangun pemahaman yang lebih baik antarindividu dan kelompok,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dialog, mediasi, dan partisipasi masyarakat adalah kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang harmonis.
Pengalaman dan Keahlian Djayeng Tirto dalam Resolusi Konflik
Djayeng Tirto bukanlah sosok asing dalam dunia perdamaian. Jenderal lulusan Akmil 1983 ini pernah menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Daerah (BINDA) di Sumatera Utara dan Sulawesi Utara, serta Wakil Panglima Pangkalan TNI AL di Jakarta. Ia juga pernah menjadi Atase Pertahanan di Nigeria dan Direktur di Badan Intelijen Strategis TNI, di mana ia memainkan peran penting dalam penandatanganan kerangka kerja kerjasama teritorial tiga negara terkait kasus Abu Sayyaf pada 2016.
Selain itu, Djayeng Tirto memiliki pengalaman luas di bidang hukum internasional dan pernah menjabat sebagai Jenderal Bintang Dua di Dewan Ketahanan Nasional sebelum memasuki dunia akademik. Di UNHAN, ia dikenal sebagai pendidik inspiratif yang mengintegrasikan teori dan praktik resolusi konflik melalui pendekatan berbasis kasus nyata.
Diskusi Interaktif: Peran Pemuda dan Perempuan dalam Perdamaian
Paparan Djayeng Tirto mendapat respons positif dari peserta. Sesi diskusi berlangsung interaktif, dengan dua pertanyaan utama yang diajukan oleh masyarakat:


