MAHATVA.ID - Bagi penduduk kota besar seperti Jakarta, ada kalanya rindu sederhana muncul: menghirup udara segar dan memandang hamparan perbukitan hijau yang menenangkan mata. Gunung Kuta menjadi salah satu jawaban atas kerinduan itu. Tak terlalu tinggi, tak pula menakutkan, gunung berbentuk bukit ini justru menawarkan pengalaman mendaki yang ramah bagi siapa saja.
Belakangan, Gunung Kuta kian populer seiring merebaknya hobi mendaki di kalangan anak muda. Berlokasi di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, gunung ini dikenal memiliki trek yang relatif aman dan pendek—pilihan ideal bagi pendaki pemula yang baru pertama kali mengikat tali sepatu gunung.
Gunung Kuta berada di Desa Cibadak dengan ketinggian sekitar 1.050 meter di atas permukaan laut. Meski tak menjulang tinggi, jalur pendakiannya menyuguhkan hutan hijau yang masih alami serta pemandangan 360 derajat berupa jejeran bukit yang membentang luas. Dari puncak, mata dimanjakan oleh gradasi hijau perbukitan dan langit biru yang terasa lebih dekat.
Popularitas Gunung Kuta semakin terdongkrak setelah banyak pendaki muda membagikan pengalaman mereka melalui media sosial, khususnya TikTok. Video singkat tentang jalur pendakian, warung di tengah hutan, hingga panorama puncak membuat gunung ini viral dan ramai dikunjungi pendaki dari berbagai daerah dan rentang usia.
“Baru sekali ini naik gunung ini, tahunya dari TikTok,” ujar Cia, salah satu pendaki asal Cibinong yang saya temui di jalur pendakian.
Mayoritas pengunjung Gunung Kuta memang pendaki pemula. Rombongan mahasiswa, pelajar SMA, hingga ibu-ibu arisan kerap terlihat berjalan bersama di jalur yang sama. Bagi mereka, Gunung Kuta dianggap cocok sebagai tempat latihan sebelum mencoba gunung dengan medan yang lebih menantang.
“Ke Kuta buat latihan dulu, soalnya Januari kita mau naik Papandayan,” tutur seorang peserta rombongan ibu-ibu arisan sambil beristirahat di warung sederhana yang berada di jalur pendakian.
Gunung Kuta dikelola oleh masyarakat setempat dengan konsep community-based tourism. Mulai dari basecamp, pengurusan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), hingga warung-warung kecil di jalur pendakian, semuanya dikelola warga sekitar. Model pengelolaan ini tak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Akses menuju Gunung Kuta tergolong mudah. Dari Kota Bogor, perjalanan dapat ditempuh sekitar satu setengah jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, melalui jalur Sentul atau Citeureup. Meski sebagian besar jalan menuju basecamp sudah cukup baik, beberapa titik masih mengalami kerusakan dan tanjakan curam, sehingga penumpang terkadang harus turun untuk melewati jalur tersebut.


