MAHATVA.ID – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-10 yang berlangsung Minggu, 19 Oktober 2025, menjadi panggung seruan persatuan nasional. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menegaskan bahwa HSN bukan sekadar seremonial, melainkan momen konsolidasi kekuatan bangsa.

"Hari Santri Nasional jauh dari sekadar slogan belaka. Ini adalah momentum konsolidasi semua kekuatan dalam menjaga dan merawat persatuan," kata Gus Yahya dalam kick off HSN 2025 di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Peringatan satu dekade HSN dinilai sangat penting karena mengakui kontribusi besar kaum santri dan pesantren dalam sejarah bangsa.

HSN yang diperingati setiap 22 Oktober, tahun ini mengusung tema:
“Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.”

Gus Yahya menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya peristiwa politik yang terjadi pada 17 Agustus 1945, tetapi juga merupakan tonggak peradaban yang diperjuangkan bersama, termasuk oleh para santri.

"Proklamasi memang dibacakan di Jakarta, tetapi ujian sejatinya terjadi di Surabaya, dan yang turun ke medan juang adalah para santri," ungkap Gus Yahya.

Pertempuran Surabaya 10 November 1945 disebut sebagai ujian terbesar kemerdekaan, yang didahului oleh Resolusi Jihad—sebuah fatwa penting dari ulama untuk mempertahankan tanah air.

Gus Yahya juga menyoroti bahwa Nahdlatul Ulama (NU) lahir di Surabaya pada tahun 1926—jauh sebelum Proklamasi maupun Pertempuran Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa NU, bersama pesantren, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa.

Namun, ia juga menyebut sejumlah kasus negatif yang menimpa pesantren sebagai "kado pahit" yang harus dijadikan bahan refleksi, bukan pemecah belah.