MAHATVA.ID -Suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti Gedung Balai Desa Tutukembong saat warga menggelar Ibadah Syukuran 72 Tahun Perpindahan masyarakat dari Kampung Lama Arkilo, Minggu malam (4/1/2026), pukul 20.30 WIT.
Ibadah ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi sejarah dan jati diri masyarakat Tutukembong, yang selama lebih dari tujuh dekade terus bertumbuh sebagai komunitas yang rukun, religius, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Ibadah syukuran tersebut dihadiri oleh tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, serta masyarakat setempat. Doa, puji-pujian, dan ungkapan syukur mengalir sebagai bentuk pengakuan atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan panjang masyarakat Arkilo hingga menetap dan membangun kehidupan baru di Tutukembong.
Kepala Desa Tutukembong, Bernadus Batlolona, kepada awak media menjelaskan, peringatan 72 tahun perpindahan warga bukan hanya agenda tahunan, tetapi ruang perenungan atas keberanian dan pengorbanan para leluhur.
“Peringatan ini adalah bentuk penghormatan terhadap tapak sejarah leluhur katong. Selama 72 tahun, perjalanan ini telah membentuk jati diri masyarakat Tutukembong. Ini waktu yang panjang dan patut disyukuri,” ujarnya.
Ia menambahkan, peringatan yang jatuh setiap 3 Januari ini harus menjadi pemicu semangat kolektif dalam membangun desa ke arah yang lebih maju dan sejahtera.
“Katong berharap seluruh stakeholder di negeri ini bisa saling topang-menopang, bergandengan tangan membangun Tutukembong agar semakin maju,” tegas Bernadus.
Lebih lanjut, Bernadus menekankan pentingnya nilai Duan Lolat, nilai luhur warisan leluhur yang menekankan persaudaraan, solidaritas, dan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial.
“Duan Lolat sudah hidup sejak dulu dan terus dijaga sampai hari ini. Inilah kekuatan sosial katong sebagai orang Tutukembong,” jelasnya.




