Catatan kaki : Petrus Livurngorvaan.
MAHATVA.ID -Pagi itu, kabut tipis menggantung di lereng bukit saat bunyi motor tua milik warga Sofyanin terdengar tersendat-sendat. Rodanya menyelip di tanah merah yang mengeras setelah hujan semalam. Di pulau yang kini dikenal sebagai Kecamatan Fordata dahulu Kecamatan Yaru.
Suara motor yang terseok-seok di jalan rusak sudah menjadi irama keseharian. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi penghubung antar desa justru berhenti menjadi sekadar janji.
Kecamatan Fordata terdiri dari enam desa: Romean, Rumngeur, Awear Lama, Sofyanin, Walerang, dan Adodo Fordata. Seluruh desa ini bergantung pada Jalan Trans Fordata sebagai satu-satunya jalur darat untuk mencapai Kota Larat, pusat layanan dan perekonomian terdekat.
Setiap kali angin barat tiba, laut tidak bersahabat. Warga yang hendak ke Kota Larat tidak dapat menempuh jalur laut, sehingga harus melewati jalan trans hingga Desa Romean sebagai titik transit. Namun kondisi jalan yang rusak parah menjadikan perjalanan itu ujian yang melelahkan.
Pembangunan Jalan Trans Fordata dimulai pada masa bupati sebelumnya. Proyek ini dipromosikan sebagai solusi penghubung selatan - utara pulau, dan menjadi harapan besar bagi masyarakat. Namun setelah beberapa tahap pekerjaan, proyek itu berhenti tanpa kejelasan.
Yang tersisa kini hanyalah potongan badan jalan, hamparan rumput menutup jalur yang pernah dibuka, serta lubang-lubang yang membekas akibat curah hujan.
“Waktu kampanye, kami dijanjikan akses cepat antar desa. Tapi sampai sekarang, yang cepat itu cuma hujan yang merusaki jalan,” tutur Agustinus warga sambil tersenyum getir.
Di masa jalan rusak seperti ini, masyarakat paling merasakan dampaknya adalah warga Adodo Fordata, desa yang letaknya paling jauh. Untuk mencapai kota kecamatan atau keperluan mendasar seperti membeli sembako, warga harus menempuh rute panjang dengan biaya tinggi.




