MAHATVA.ID -Forum silaturahmi dan makan malam SKK Migas bersama PT INPEX Masela dengan tokoh masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar memantik refleksi kritis tentang arah komunikasi Proyek Strategis Nasional Blok Masela, agar dibangun melalui dialog yang terbuka dan berkeadaban, bukan konflik yang berpotensi merugikan masyarakat lingkar proyek.


Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (13/1) malam, pukul 19.00 WIT, di Vila Bukit Indah, Saumlaki, dan dihadiri sejumlah tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemuda Tanimbar.

Dalam forum tersebut, tokoh masyarakat yang juga Ketua Pemuda Desa Olilit Raya, Fransiskus Ongen Rangkore, menyampaikan pernyataan tegas yang menempatkan proyek gas Blok Masela bukan semata sebagai agenda investasi, melainkan sebagai tanggung jawab historis dan moral negara terhadap masyarakat adat Tanimbar

Fransiskus menggarisbawahi, Blok Masela bukan proyek baru bagi Tanimbar. Fondasi awalnya, kata dia, telah diletakkan sejak awal 2000-an, ketika bupati pertama Maluku Tenggara Barat, kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar. mengalokasikan APBD untuk kajian ilmiah proyek tersebut.

“Blok Masela ini bukan lahir kemarin sore. Negara sudah masuk sejak awal, bahkan daerah sudah berinvestasi untuk kajian. Yang kurang hari ini bukan niat investor, tetapi konsistensi kebijakan daerah,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa visi pembangunan “dari laut ke darat” yang pernah digaungkan para pendiri daerah seharusnya menjadi pegangan, bukan sekadar slogan yang terhenti di dokumen.

Dalam pernyataannya, Fransiskus juga membandingkan kesiapan Tanimbar dengan daerah lain, khususnya Papua, dalam menyikapi investasi berskala besar.

“Daerah lain tidak ribut di awal. Mereka buka pintu, lalu bernegosiasi cerdas setelah investasi berjalan. Hasilnya, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakatnya justru terjamin,” katanya.

Menurutnya, resistensi tanpa strategi hanya akan menjauhkan manfaat dari masyarakat lokal. Ia mengingatkan, investor memiliki pilihan, sementara masyarakat lingkar proyek tidak.