MAHATVA.ID - Di tengah spekulasi politik dan sorotan publik terhadap kondisi kesehatannya, mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Keputusan ini diumumkan melalui putra bungsunya, Kaesang Pangarep, yang juga menyatakan dirinya resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum PSI.
“Enggak mungkin beliau bersaing dengan anaknya,” ujar Kaesang dalam keterangan pers, Minggu (22/6).
Keputusan mengejutkan ini diumumkan tepat pada hari ulang tahun Jokowi ke-64, yang dirayakan secara sederhana di kediamannya di Solo. Dalam acara tersebut, penampilan Jokowi menjadi sorotan, terutama karena kondisi kulitnya yang tampak tidak sehat, menimbulkan spekulasi soal kondisi kesehatannya yang sebenarnya.
Herman Khaeron: Retret Demokrat Jatim Momentum Konsolidasi Perkuat Peran Partai untuk Rakyat
Spekulasi Kesehatan Jokowi dan Aktivitas Politik yang Terbatas
Jokowi pernah menyebut dirinya mengalami alergi kulit usai kunjungan ke Vatikan pada April lalu. Namun, publik mencurigai ada kemungkinan lain, termasuk dugaan penyakit langka seperti sindrom Stevens-Johnson, karena kondisi kulitnya tak kunjung membaik meski sudah kembali ke Indonesia hampir dua bulan.
Meski masih terlihat aktif dalam beberapa kesempatan, banyak pihak menduga bahwa aktivitas Jokowi kini jauh lebih terbatas dan bisa jadi alasan utama mengapa ia menghindari posisi strategis di partai politik.
PSI di Tangan Kaesang, Tantangan Besar di Depan
Dengan mundurnya Jokowi, kini masa depan PSI sepenuhnya berada di tangan Kaesang Pangarep. Namun, tantangan besar menantinya, terutama untuk membawa PSI lolos ke parlemen pada Pemilu 2029, setelah gagal melewati ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 meski mendapat dukungan penuh dari Jokowi.
Banyak pengamat politik menilai bahwa pengaruh politik Jokowi diprediksi akan menurun tajam setelah tidak lagi memegang kekuasaan. Hal ini bisa berdampak langsung pada elektabilitas PSI di masa depan.


