MAHATVA.ID -Kunjungan kerja perdana Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, ke Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu (26/7/2025), menjadi momen strategis yang menggugah harapan baru masyarakat di wilayah perbatasan. Dalam pertemuan terbuka bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pemerintah desa se-Kabupaten Tanimbar. bertempat di pendopo Bupati, pukul 15.20 WIT. Pemerintah daerah menyuarakan kebutuhan nyata masyarakat kepulauan, bukan sekadar seremonial.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Tanimbar, dr. Juliana Ratuanak, secara tegas menyampaikan bahwa kehadiran Gubernur membawa sinyal positif terhadap komitmen pemerataan pembangunan di Maluku.

“Kami percaya, ini bukan sekadar kunjungan belaka. Salah satu buktinya, dari tujuh rumah sakit bertaraf nasional yang direncanakan, satu akan hadir di Tanimbar. Ini momentum bersejarah bagi kami,” tegas Ratuanak dalam sambutannya yang disambut riuh dukungan forum.

Dalam forum yang dihadiri ratusan pejabat dan tokoh masyarakat, Wakil Bupati menegaskan bahwa pembangunan di Tanimbar kini mulai masuk dalam peta prioritas Pemerintah Provinsi Maluku. Selama ini, program-program besar kerap terfokus di Maluku Tengah, namun kini mulai menyentuh wilayah terluar seperti Kepulauan Tanimbar.

Pemerintah daerah berharap langkah ini bukan hanya simbolis, melainkan diwujudkan dalam bentuk nyata hingga ke level kecamatan dan desa.

Tak hanya itu, Ratuanak mengangkat isu krusial: ketimpangan pembangunan antara wilayah kontinental dan kepulauan. Ia menyoroti bahwa selama puluhan tahun, pendekatan pembangunan nasional masih berpusat pada daratan, padahal Maluku dan Tanimbar memiliki karakteristik geografis yang unik.

“Banyak tokoh bicara soal provinsi kepulauan, tapi konsep pembangunannya masih daratan. Kami di Tanimbar belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya,” ujarnya lantang.

Selain itu, Wakil Bupati juga menyoroti ironi dalam pengelolaan kekayaan alam. Ia menyebut bahwa ribuan ton hasil tambang emas telah diekspor, tetapi masyarakat lokal nyaris tak merasakan manfaatnya.

“Maluku punya tambang emas, tapi tidak punya toko emas. Yang kami lihat hanya lalu-lalang eksploitasi, tanpa hilirisasi. Daerah hanya menjadi penonton,” ungkapnya.