SAUMLAKI, MAHATVA.ID -Kelangkaan minyak tanah kembali melanda wilayah Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada awal Agustus 2025. Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat, terutama kalangan rumah tangga dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang masih sangat bergantung pada komoditas ini sebagai sumber energi utama.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, distribusi minyak tanah tidak berjalan optimal, ditandai dengan antrian panjang di pangkalan resmi dan pengecer, serta lonjakan harga yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Saat ini kami sudah susah sekali dapat minyak tanah. Kalau pun ada, harganya naik dua kali lipat dari biasanya,” ujar Rosa Wuarlela, warga Kelurahan Saumlaki, saat ditemui MAHATVA.ID, Rabu (7/8/2025).

Pemkab Tanimbar Diminta Segera Ambil Langkah Konkret

Menanggapi situasi ini, masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar (Pemkab Tanimbar) melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM agar segera berkoordinasi dengan Pertamina dan lembaga penyalur resmi. Langkah ini penting untuk mengevaluasi rantai distribusi minyak tanah dan menjamin ketersediaan stok sesuai kebutuhan riil masyarakat.

Selain itu, aparat pengawas di tingkat kecamatan dan kelurahan diminta mengintensifkan pengawasan terhadap distribusi dan penjualan untuk mencegah praktik dugaan penimbunan dan spekulasi harga oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Energi Rumah Tangga Terancam, Pemerintah Harus Hadir

Kondisi krisis minyak tanah di Saumlaki ini menjadi alarm serius karena menyangkut kebutuhan energi dasar masyarakat kepulauan yang memiliki akses terbatas terhadap sumber energi alternatif seperti gas LPG atau listrik.

Diperlukan langkah strategis dan cepat lintas sektor, agar distribusi minyak tanah kembali normal dan ketahanan energi masyarakat tidak terganggu. Pemerintah juga diharapkan meninjau kembali sistem penyaluran dan melakukan intervensi pasar bila diperlukan.