MAHATVA.ID -Kelompok petani di Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, mendesak pemerintah daerah untuk segera merealisasikan janji bantuan yang hingga kini tak kunjung terpenuhi. Minimnya akses pasar, rendahnya harga jual, serta ketergantungan pada pengepul dinilai semakin memperburuk kondisi kesejahteraan petani di wilayah tersebut.

Felix Balia, petani sayuran dari Desa Awear Lama, menyampaikan keluhan atas kesulitan yang dialami masyarakat tani. Menurutnya, hasil panen cabai, tomat, dan sayuran yang melimpah tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh karena pasar lokal tidak mampu menyerap produksi secara maksimal.

“Produksi kami memang melimpah, tetapi kemana harus dijual? Pasar tidak menampung, harga sangat murah, dan lebih banyak bon daripada uang tunai yang kami terima. Hal ini membuat kami sulit bertahan,” ujar Felix dengan nada kecewa, Jumat (20/9/2025).

Ia menambahkan, mengenai janji bantuan pompa air tenaga surya dari Dinas Pertanian yang pernah disampaikan lebih dari dua tahun lalu belum juga terealisasi. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat para petani merasa diabaikan.

Kondisi ini mencerminkan persoalan struktural yang dihadapi petani kecil di wilayah pedalaman, termasuk keterbatasan infrastruktur distribusi serta ketergantungan pada pengepul yang menetapkan harga secara sepihak.


Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jimmy Watumlawar, menjelaskan bahwa harga cabai di Pasar Saumlaki dalam tiga bulan terakhir (Juli–September 2025) masih tinggi, yakni sekitar Rp120.000 per kilogram. Untuk menekan inflasi pangan, pemerintah telah melaksanakan Gerakan Menanam Cabai dengan penyediaan 16.500 anakan cabai, melibatkan 17 sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta sembilan desa di enam kecamatan.

“Kami justru berterima kasih apabila produksi cabai dari Kecamatan Fordata dapat dipasarkan ke Saumlaki, sehingga dapat membantu menekan harga cabai yang mahal di pasar,” jelas Watumlawar.


Lebih lanjut, Terkait permintaan sarana produksi seperti traktor roda empat dan pompa air tenaga surya, Watumlawar menegaskan bahwa usulan tersebut tidak hanya datang dari Desa Awear, tetapi juga dari desa-desa lain di sepuluh kecamatan di Tanimbar. Semua permohonan, kata dia, telah diteruskan ke Kementerian Pertanian untuk menjadi perhatian pemerintah pusat.

Watumlawar menambahkan, Pada 2025, bantuan yang tersedia baru berupa dua unit traktor roda empat yang dialokasikan ke dua kecamatan dengan pengajuan lebih awal, serta lima unit traktor roda dua yang telah dibagikan, termasuk satu unit untuk Kelompok Tani Desa Awear. Untuk irigasi tenaga surya, belum ada bantuan, sementara yang baru direalisasikan adalah sistem irigasi perpompaan,Tambahnya.