Mahatva.id — Di era media sosial, ujian terhadap iman tidak lagi hadir dalam bentuk klasik seperti kekuasaan, harta, atau godaan duniawi. Tantangan terbesar justru datang dari sesuatu yang jauh lebih halus dan bekerja langsung di dalam otak manusia: dopamin.

Fenomena ini menjelaskan mengapa konten yang paling laku di lini masa bukanlah yang paling benar atau paling bernilai, melainkan yang paling mampu memancing emosi—marah, takut, merasa paling suci, atau merasa paling terancam. Media sosial, dalam konteks ini, bukan sekadar ruang komunikasi, melainkan mesin biologis yang secara sistematis memengaruhi perilaku manusia.

Dopamin dan Ilusi Kesalehan Digital

Dopamin kerap disalahpahami sebagai “hormon kebahagiaan”. Dalam neurosains, dopamin lebih tepat dipahami sebagai hormon antisipasi dan dorongan. Ia dilepaskan ketika manusia merasa akan memperoleh sesuatu—pengakuan, pembenaran, atau kemenangan moral.

Like, share, dan komentar di media sosial bukan sekadar fitur teknis. Ia adalah pemicu dopamin. Konten yang membangkitkan kemarahan atau rasa “paling benar” memberi kepuasan instan. Dalam jangka panjang, otak belajar bahwa emosi ekstrem jauh lebih memuaskan dibanding refleksi yang tenang.

Di titik inilah, kesalehan digital kerap bergeser menjadi pertunjukan emosi, bukan proses spiritual. Yang dicari bukan lagi kebenaran atau kedalaman iman, melainkan sensasi merasa benar—dan terlihat benar di mata publik.

Iman Reaktif dan Dominasi System 1

Peraih Nobel Ekonomi Daniel Kahneman membagi cara berpikir manusia ke dalam dua sistem:
System 1, yang cepat, intuitif, dan emosional; serta System 2, yang lambat, rasional, dan reflektif.

Media sosial hidup hampir sepenuhnya dari System 1. Judul provokatif, potongan video emosional, dan narasi hitam-putih dirancang untuk memotong jalan menuju refleksi. Publik bereaksi sebelum berpikir, membagikan sebelum memverifikasi, dan marah sebelum memahami.