Jekjak Kaki: Petrus. L. Watkaat.

MAHATVA.ID -Dalam dinamika politik lokal, bahasa sering kali menjadi cermin yang memantulkan cara kekuasaan bekerja. Ia dapat menenangkan, menyatukan, atau sebaliknya mengiris dan mengukur siapa yang dianggap “di dalam” dan siapa yang berada “di luar.”

Belakangan ini, sebuah metafora kembali mengalir deras dalam percakapan masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar: “ikan kecil” dan “ikan besar.”

Ungkapan yang terdengar sederhana, namun di tangan sebagian orang yang berada dekat dengan lingkar kekuasaan, ia berubah menjadi alat untuk menekan, meremehkan, dan mengarahkan persepsi publik terhadap lawan politik bupati.

Meski tampak sepele, narasi semacam ini menyimpan struktur kuasa yang jauh lebih serius.

Di tradisi pesisir, “ikan besar” tidak pernah dimaknai sebagai makhluk yang berkuasa, tetapi simbol ketangguhan hidup - yang besar karena ditempa ombak dan arus.

Sementara “ikan kecil” bukanlah makhluk tak berdaya, melainkan masa depan, bibit yang akan tumbuh ketika tiba waktunya.

Namun ketika metafora itu dibawa ke panggung politik, maknanya bergeser:
Siapa ikan kecil dan siapa ikan besar ditentukan oleh siapa yang memegang jaring kekuasaan.

Di sinilah masalahnya dimulai.
Ketika bahasa dipakai untuk menggambarkan siapa yang layak dihormati atau dianggap remeh, maka publik berhak bertanya: bahasa ini menggambarkan realitas, atau sedang membentuk realitas?