BOGOR, MAHATVA.ID – Program Koperasi Merah Putih di Kabupaten Bogor mendapat sorotan tajam dari Yusfitriadi, selaku Founder Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (Vinus). Menurutnya, koperasi yang digagas pemerintah tersebut justru tidak berjalan maksimal alias stagnan.

Yusfitriadi menilai, koperasi seharusnya lahir dari kesadaran akar rumput (grassroot), bukan karena paksaan dari pemerintah atau aparatur desa.

“Tapi yang terjadi di Koperasi Merah Putih justru dipaksa. Aparatur desa didorong menggelar rapat untuk membentuk koperasi, dan pola seperti itu jelas sudah salah,” tegasnya.

Koperasi Harus Transparan dan Berbasis Publik

Ia menegaskan, secara konsepsi koperasi adalah tulang punggung perekonomian rakyat. Bahkan, menurutnya sejarah berdirinya republik ini juga tidak lepas dari peran koperasi, sebagaimana banyak negara yang kuat karena membangun ekonomi berbasis koperasi.

Namun, ia mengingatkan pentingnya proses yang transparan dan akuntabel sejak awal pembentukan.

“Kalau awalnya saja sudah salah, maka jalannya pun akan salah ke depannya,” ujar Yusfitriadi.

Selain itu, faktor sumber daya manusia (SDM) juga sangat menentukan. Tanpa penguatan SDM, koperasi hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata bagi masyarakat desa.

Krisis Kepercayaan Publik