MAHATVA.ID — Jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap gelombang protes nasional di Iran dilaporkan mendekati 2.600 orang. Di tengah eskalasi kekerasan, Teheran memperingatkan negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah bahwa pangkalan militer AS di wilayah mereka akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa peringatan tersebut telah disampaikan langsung kepada sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Turki, dan Qatar.

“Teheran telah memberi tahu negara-negara regional bahwa pangkalan AS di negara-negara tersebut akan diserang jika AS menargetkan Iran,” ujar pejabat tersebut dengan syarat anonim, dikutip Rabu (14/1/2026).

Peringatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan campur tangan mendukung para demonstran. Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menyatakan akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran mengeksekusi para pengunjuk rasa.

“Jika mereka menggantung mereka, Anda akan melihat beberapa hal,” kata Trump.

Korban Tewas dan Penangkapan Terus Bertambah

Kelompok pemantau hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan telah memverifikasi kematian 2.403 demonstran dan 147 orang yang berafiliasi dengan pemerintah. Dengan demikian, total korban tewas mencapai sekitar 2.550 orang.

Seorang pejabat Iran sebelumnya mengakui kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas mendekati 2.000 orang. HRANA juga mencatat sedikitnya 18.137 orang telah ditangkap sejak kerusuhan pecah.

Otoritas Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut. Pemerintah juga menyalahkan kekerasan pada kelompok yang mereka sebut sebagai teroris.