MAHATVA.ID -Menjelang puncak ritual adat, masyarakat Desa Sofyanin intens menggelar latihan tarian Tnabar Ilaa sebagai rangkaian persiapan menuju pelaksanaan pentas yang akan digelar di Desa Romean, Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Puncak ritual akan ditandai dengan kunjungan resmi masyarakat Sofyanin ke Desa Romean pada 28 November 2025 guna melaksanakan Ridwal Adat Tnabar Illaa. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan, penguatan hubungan Pela Gandong, dan komitmen menjaga kesepakatan adat yang telah disepakati bersama sejak 1993.
Untuk diketahui, Tradisi ini menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh prosesi adat berjalan sesuai tatanan leluhur dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Pentas Tnabar Ilaa tahun ini kembali menjadi pengingat kuat tentang pentingnya menjaga kearifan lokal, memelihara hubungan adat, serta memperkuat Kesepakatan Adat Temar Lolan 1993 di desa Sofyanin yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam menyelesaikan persoalan antardesa, ujar Kepala Desa Sofyanin, Melkior Sabonu kepada Mahatva.id, Rabu (26/11/2025)
Menurutnya, Tnabar Ilaa bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme adat yang menguatkan identitas budaya dan memelihara hubungan Pela Gandong antara Sofyanin dan Romean.
“Kami ingin generasi hari ini melihat bahwa adat bukan cerita masa lalu. Adat adalah benteng moral yang melindungi kita dari perselisihan dan menjaga hubungan sosial tetap seimbang,” ujar Sabonu.
Terlepas dari itu, Latihan Tnabar Ilaa menjadi ruang ritual yang memastikan semua unsur adat berjalan tertib, mulai dari gerak, nyanyian, hingga simbol adat lain yang wajib ditaati.
Tradisi tahun ini kembali mengangkat sejarah penting ketika masyarakat Desa Romean pertama kali hadir di Sofyanin pada tahun 1993 untuk melaksanakan pentas adat. Pertemuan besar tersebut berlangsung di Temar Lolan dan menghasilkan sebuah kesepakatan adat yang hingga kini menjadi pedoman utama dalam menjaga harmoni di wilayah perbatasan.
Butir Kesepakatan Adat Temar Lolan 1993


