MAHATVA.ID – Pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di panggung internasional. Kehadiran Presiden Prabowo dinilai menunjukkan bahwa Indonesia kini semakin diperhitungkan dalam percaturan global.
Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, Alem Febri Sonni, menilai Indonesia berpotensi besar untuk tampil sebagai jembatan perdamaian di tengah kompleksitas konflik global.
“Posisi Indonesia ini kemungkinan akan dijadikan sebagai alat untuk meredam sejumlah konflik internasional,” ujar Alem kepada InfoPublik.id, Senin (22/9/2025).
Strategi Diplomasi Middle Power
Menurut Alem, Presiden Prabowo kemungkinan akan menggunakan strategi diplomasi middle power, yaitu tidak memosisikan diri secara ekstrem, melainkan menjadi penghubung di tengah dinamika global. Hal ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan nonblok.
“Indonesia lebih tepat mengambil peran sebagai bridging nation, penghubung di tengah situasi global yang semrawut saat ini. Itu langkah yang bijak,” jelasnya.
Alem juga menegaskan, sejak sebelum menjabat presiden, Prabowo sudah dikenal luas di dunia internasional. Sehingga kehadirannya di forum global bukanlah hal mengejutkan, melainkan momentum penting untuk memperkuat peran Indonesia.
“Secara kapabilitas, Prabowo sudah lama menjadi bagian dari narasi global. Pidato ini adalah momentum yang tepat bagi Indonesia, karena saat ini posisi kita semakin diperhitungkan,” tegasnya.
Isu Palestina dan Perdamaian Dunia


