MAHATVA.ID – Diskusi publik mengenai hubungan antara kerja keras dan kesuksesan kembali mencuat setelah banyak pihak menyoroti ironi kehidupan para kuli panggul di pasar. Meski bekerja paling berat, paling lama, dan menguras fisik setiap hari, kenyataannya sebagian besar dari mereka masih hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan.

Para kuli panggul memulai aktivitas sejak dini hari dan baru selesai ketika pasar tutup. Namun upah yang diterima tidak sebanding dengan energi, waktu, dan tenaga yang mereka keluarkan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Jika kerja keras menentukan kesuksesan, mengapa mereka yang bekerja paling keras justru berada di lapisan penghasilan terendah?

Kerja Keras Penting, tetapi Tidak Selalu Menentukan

Pengamat sosial mencatat bahwa kerja keras memang faktor penting, namun bukan satu-satunya variabel penentu keberhasilan. Kesempatan, akses, pendidikan, kualitas lingkungan, dan struktur sosial memiliki pengaruh besar terhadap mobilitas ekonomi seseorang.

Tidak sedikit pekerja fisik yang hidup dalam ekosistem sosial yang minim peluang. Jenjang pendidikan terbatas, akses informasi sangat kecil, dan jaringan relasi hampir tidak tersedia. Akibatnya, sekalipun mereka bekerja keras, jalur untuk naik kelas ekonomi sangat terjal.

“Ada yang bekerja keras tapi hidup di lingkungan yang tidak memberi peluang naik. Seberapa pun ia berlari, treknya tetap menanjak,” ungkap seorang peneliti ketenagakerjaan.

Sebaliknya, ada individu lain yang memulai hidup dari titik awal yang lebih tinggi. Akses pendidikan berkualitas, jaringan sosial yang luas, dan peluang kerja yang lebih terbuka menjadi keunggulan bawaan sejak awal.

Ketimpangan Titik Awal: Ada yang Memulai dari Lantai Satu, Ada dari Lantai Sepuluh

Konsep ketimpangan titik awal (starting point inequality) menjadi sorotan penting dalam perdebatan ini. Meski kerja keras bisa menambah peluang, faktor awal kehidupan sangat menentukan kecepatan dan tinggi lompatan seseorang.