MAHATVA.ID – Sistem manajemen lapangan Tol Laut di Larat, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menuai kritik dari masyarakat setempat. Kebijakan distribusi kontainer dinilai tidak adil karena tidak memprioritaskan komoditas unggulan daerah, seperti arang batok kelapa, yang tengah berkembang pesat.  

Arang Batok Kelapa Terpinggirkan, Besi Tua Justru Dapat Jatah

Pengusaha arang batok kelapa, Bram Sarwuna, mempertanyakan alasan besi tua, yang bukan merupakan komoditas utama Kepulauan Tanimbar (KKT), justru mendapatkan jatah kontainer Tol Laut, sementara arang batok kelapa, yang banyak diproduksi masyarakat, tidak memperoleh kuota yang memadai.  

"Kami sangat kecewa dengan sistem yang tidak adil ini. Seharusnya, arang batok kelapa sebagai komoditas unggulan mendapatkan prioritas. Produk ini punya potensi besar sebagai sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat selain kopra," ujar Bram.  

Menurutnya, arang batok kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi briket untuk ekspor ke pasar internasional. Dengan meningkatnya permintaan pasar, kebijakan distribusi kontainer Tol Laut seharusnya lebih berpihak pada komoditas unggulan yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.  

Desakan Revisi Sistem Manajemen Lapangan

Bram mendesak agar sistem manajemen lapangan Tol Laut segera direvisi, dengan memprioritaskan produk unggulan daerah seperti arang batok kelapa, kopra, dan kelapa buah. Selain itu, ia juga meminta penambahan kuota kontainer untuk mengakomodasi permintaan pasar yang terus meningkat.  

"Saat ini, kuota hanya 10 kontainer, dan itu tidak cukup. Kami berharap jumlahnya ditambah menjadi 20 kontainer agar kebutuhan masyarakat terpenuhi," tegasnya.  

Dorongan Hadirnya Perusahaan Pelayaran Baru