Papua, MAHATVA.ID - Kabar baik datang dari Bumi Papua. PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat berhasil melakukan pengeboran sumur pengembangan SLW-E006 di Cluster E Lapangan Salawati dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 barel minyak per hari (BOPD).

Pengeboran sumur SLW-E006 resmi dimulai pada 31 Desember 2025 dan ditargetkan mencapai lapisan Kais Carbonate pada kedalaman 2.165 meter measured depth (mMD). Setelah dilakukan pekerjaan komplesi, sumur ini dinyatakan berhasil menemukan minyak dan resmi on stream pada 16 Februari 2026.

Kepala , , menyampaikan bahwa capaian ini menjadi keberhasilan sumur kedua dari total empat sumur yang direncanakan dalam rangkaian program pengeboran di Lapangan Salawati.

“Alhamdulillah, sumur SLW-E006 berhasil memberikan hasil produksi minyak yang menggembirakan. Ini menjadi tambahan penting bagi upaya peningkatan lifting nasional,” ujar Djoko Siswanto.

Sumur SLW-E006 dibor secara directional (J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2–1000 HP, dengan total waktu pengeboran hingga uji produksi selama 43 hari. Kedalaman akhir sumur tercatat 2.165 mMD atau 2.101 meter true vertical depth (mTVD).

Keberhasilan pengeboran ini turut didukung penerapan teknologi baru, di antaranya Casing While Drilling (CWD) pada casing 13-3/8 inci, yang terbukti efektif meningkatkan keberhasilan pengeboran pada trayek 17-1/2 inci. Selain itu, strategi pengeboran di rubble zone trayek 12-1/4 inci dilakukan dengan penguatan lubang sumur (wellbore strengthening), sehingga mampu mencegah kendala besar yang berpotensi menghambat operasi.

Dari sisi biaya, realisasi pengeluaran mencapai USD 9,77 juta atau sekitar 94 persen dari AFE yang telah disetujui, menunjukkan efisiensi pelaksanaan pengeboran.

Keberhasilan ini diharapkan dapat berlanjut pada dua sumur berikutnya, sehingga mampu mengejar target lifting minyak nasional APBN 2026 sebesar 610 ribu barel per hari (kbd).

“Mohon doa agar dua sumur selanjutnya dapat menghasilkan minyak yang sama, bahkan lebih besar, demi mendukung ketahanan energi nasional,” tutup Djoko Siswanto.