BOGOR, MAHATVA.ID – Pekerjaan tambal sulam di wilayah kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Wilayah I Kabupaten Bogor kembali menuai sorotan. Sejumlah warga mengeluhkan kualitas perbaikan yang dinilai tidak sesuai standar sehingga tambalan cepat rusak dan menimbulkan lubang baru.
Pemerintah sebenarnya telah menetapkan standar teknis perbaikan jalan melalui aturan Kementerian PUPR. Tahapan ideal meliputi pembersihan area, pemotongan bagian yang rusak secara presisi, pelapisan perekat (tack coat), pengisian aspal panas sesuai spesifikasi, hingga pemadatan menggunakan alat berat agar menyatu dengan lapisan lama.
Namun, kondisi di lapangan berbeda. Banyak kontraktor diduga hanya menutup lubang menggunakan aspal dingin tanpa pemadatan maksimal. Akibatnya, tambalan mengelupas hanya dalam hitungan minggu.
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan ulang berada di Jembatan Cijujung, Sentul. Belum satu bulan ditambal, permukaan jalan kembali berlubang dan membahayakan pengendara.
“Iya, kemarin ada yang jatuh di sini karena kena lubang. Korbannya ibu-ibu pulang kerja. Kasihan banget,” ujar seorang warga yang sehari-hari berjualan di dekat lokasi.
Pengamat kebijakan publik, Yudistira, menilai fenomena ini mencerminkan lemahnya pengawasan dari Dinas PUPR Kabupaten Bogor.
“Standar tambalan jalan seharusnya bertahan minimal satu tahun. Kalau alasannya karena dilalui banyak truk besar, tentu harus ada solusi material, bukan dikerjakan asal-asalan,” tegasnya.
Yudistira juga mengajak masyarakat ikut terlibat dalam pengawasan.
“Warga harus proaktif melaporkan temuan di lapangan agar pengawasan lebih efektif,” pungkasnya.


