
Ditulis oleh:
Ramdhan Agung Giri Nugroho, S.H.
(Koordinator Pusat Forum Cendikiawan Muda Indonesia & Founder Institute for Learning in Global Harmony and Tolerance)
Pendahuluan
Terorisme secara umum didefinisikan sebagai penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap warga sipil untuk mencapai tujuan politik, ideologis, atau simbolik. Dalam wacana publik maupun kebijakan keamanan, terorisme kerap direduksi menjadi persoalan ideologi ekstrem—terutama agama—yang dianggap sebagai pemicu utama radikalisasi dan tindakan kekerasan. Narasi ini diperkuat oleh representasi media dan pernyataan kelompok ekstremis yang secara eksplisit menggunakan simbol dan bahasa keagamaan.
Namun, pendekatan yang terlalu menekankan dimensi ideologis berpotensi mengaburkan faktor-faktor struktural yang membentuk konteks sosial tempat ideologi ekstrem tersebut beroperasi. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kondisi material seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, degradasi lingkungan, serta ketidakstabilan ekonomi global berfungsi sebagai enabling conditions yang memperbesar kerentanan individu dan komunitas terhadap proses radikalisasi. Oleh karena itu, artikel ini mengajukan argumen bahwa analisis terorisme modern menuntut perspektif multidimensi yang melampaui ideologi sebagai variabel tunggal.
Abstrak
Kajian terorisme global selama dua dekade terakhir cenderung menempatkan ideologi—khususnya ideologi agama—sebagai variabel utama dalam menjelaskan motif dan dinamika kekerasan ekstrem. Pendekatan tersebut, meskipun relevan dalam konteks tertentu, berisiko menyederhanakan fenomena terorisme yang pada praktiknya bersifat multidimensional. Artikel ini bertujuan menyajikan tinjauan konseptual dan empiris mengenai peran faktor struktural non-ideologis, khususnya perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan dinamika ekonomi global, dalam menciptakan kondisi sosial yang kondusif bagi muncul dan berkembangnya terorisme modern. Dengan menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan studi keamanan, ekonomi politik, dan ilmu lingkungan, artikel ini menegaskan bahwa terorisme lebih tepat dipahami sebagai produk interaksi antara narasi ideologis dan kerentanan struktural. Temuan konseptual ini memiliki implikasi penting bagi perumusan kebijakan kontra-terorisme yang lebih komprehensif dan berorientasi pencegahan.
Kerangka Teoretis: Terorisme sebagai Fenomena Struktural
Ditulis oleh:
Ramdhan Agung Giri Nugroho, S.H.
(Koordinator Pusat Forum Cendikiawan Muda Indonesia & Founder Institute for Learning in Global Harmony and Tolerance)
Pendahuluan
Terorisme secara umum didefinisikan sebagai penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap warga sipil untuk mencapai tujuan politik, ideologis, atau simbolik. Dalam wacana publik maupun kebijakan keamanan, terorisme kerap direduksi menjadi persoalan ideologi ekstrem—terutama agama—yang dianggap sebagai pemicu utama radikalisasi dan tindakan kekerasan. Narasi ini diperkuat oleh representasi media dan pernyataan kelompok ekstremis yang secara eksplisit menggunakan simbol dan bahasa keagamaan.
Namun, pendekatan yang terlalu menekankan dimensi ideologis berpotensi mengaburkan faktor-faktor struktural yang membentuk konteks sosial tempat ideologi ekstrem tersebut beroperasi. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kondisi material seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, degradasi lingkungan, serta ketidakstabilan ekonomi global berfungsi sebagai enabling conditions yang memperbesar kerentanan individu dan komunitas terhadap proses radikalisasi. Oleh karena itu, artikel ini mengajukan argumen bahwa analisis terorisme modern menuntut perspektif multidimensi yang melampaui ideologi sebagai variabel tunggal.
Abstrak
Kajian terorisme global selama dua dekade terakhir cenderung menempatkan ideologi—khususnya ideologi agama—sebagai variabel utama dalam menjelaskan motif dan dinamika kekerasan ekstrem. Pendekatan tersebut, meskipun relevan dalam konteks tertentu, berisiko menyederhanakan fenomena terorisme yang pada praktiknya bersifat multidimensional. Artikel ini bertujuan menyajikan tinjauan konseptual dan empiris mengenai peran faktor struktural non-ideologis, khususnya perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan dinamika ekonomi global, dalam menciptakan kondisi sosial yang kondusif bagi muncul dan berkembangnya terorisme modern. Dengan menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan studi keamanan, ekonomi politik, dan ilmu lingkungan, artikel ini menegaskan bahwa terorisme lebih tepat dipahami sebagai produk interaksi antara narasi ideologis dan kerentanan struktural. Temuan konseptual ini memiliki implikasi penting bagi perumusan kebijakan kontra-terorisme yang lebih komprehensif dan berorientasi pencegahan.

.png)