MAHATVA.ID – Ketegangan geopolitik dan konflik yang terus berlangsung membuat kawasan Timur Tengah tetap menjadi salah satu pasar senjata terbesar di dunia. Arus impor persenjataan ke wilayah ini sangat besar, dengan Amerika Serikat memegang peran dominan sebagai pemasok utama.

Laporan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa Timur Tengah menyerap sekitar 21 persen dari total impor senjata global pada 2025. Angka tersebut menempatkan kawasan ini sebagai salah satu pusat perdagangan militer terbesar di dunia dalam satu dekade terakhir.

Selama sepuluh tahun terakhir, porsi impor senjata ke Timur Tengah hampir selalu berada di atas seperlima total perdagangan persenjataan global. Kondisi ini mencerminkan tingginya kebutuhan negara-negara kawasan untuk memperkuat kemampuan militernya.

Lonjakan belanja militer di Timur Tengah terjadi seiring meningkatnya ketegangan keamanan. Konflik regional, rivalitas geopolitik, serta kebutuhan modernisasi militer membuat banyak negara di kawasan terus memperbarui arsenal persenjataannya.

Data SIPRI menunjukkan bahwa Amerika Serikat menjadi pemasok senjata terbesar ke Timur Tengah pada periode 2021–2025 dengan pangsa ekspor mencapai 54 persen dari total impor senjata kawasan.

Dominasi tersebut membuat Washington menjadi mitra militer utama bagi sejumlah negara penting di kawasan seperti Arab Saudi, Israel, dan Qatar. Negara-negara ini dikenal sebagai pembeli utama dalam program modernisasi pertahanan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Skala pengadaan senjata oleh negara-negara Timur Tengah juga tergolong sangat besar. Berdasarkan data SIPRI, Uni Emirat Arab membeli lebih dari 13.000 rudal dari Amerika Serikat dalam sepuluh tahun terakhir.

Sementara itu, Arab Saudi tercatat menerima 89 pesawat tempur, lebih dari 150 kendaraan lapis baja, serta sekitar 1.800 rudal dari Washington dalam periode yang sama.

Arus pembelian ini menunjukkan eratnya hubungan militer antara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Kontrak pengadaan senjata menjadi bagian penting dari strategi keamanan kawasan dalam menghadapi berbagai ancaman, mulai dari konflik regional hingga rivalitas dengan Iran.