MAHATVA.ID — Kematian YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri, menjadi tragedi kemanusiaan yang mengguncang nurani publik. Bocah tersebut diduga putus asa setelah permintaannya untuk uang membeli buku dan pena—dengan nilai kurang dari Rp10.000—tidak dapat dipenuhi oleh keluarganya.

Ibu korban, MGT (47), merupakan seorang janda yang harus menanggung hidup lima anak. Ia bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Dalam kondisi kemiskinan ekstrem, nominal Rp10.000 bukanlah perkara ringan bagi keluarga tersebut.

Untuk meringankan beban sang ibu, YBS sebelumnya diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana. Namun, pada Kamis (29/1/2026), bocah itu ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh, tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal.

Dosen Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, menilai kemiskinan ekstrem kerap mematikan imajinasi anak-anak untuk bahagia sejak usia dini.
“Dalam kemiskinan ekstrem, anak-anak kehilangan orientasi hidup. Anak-anak yang cerdas bahkan lebih rentan karena bisa mengakses informasi tidak tersaring di media sosial dan meniru keputusan fatal seperti bunuh diri,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Sementara itu, anggota DPR RI asal NTT, Andreas Hugo Pareira, menyebut peristiwa tersebut sebagai tamparan keras bagi seluruh elemen masyarakat.
“Ada seorang anak yang meninggal secara tragis karena putus asa, hilangnya perhatian, dan minimnya kasih sayang—bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan sosialnya,” kata Andreas.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab sosial masyarakat harus tergerak untuk melindungi dan menyelamatkan generasi anak-anak agar dapat tumbuh menjadi manusia dewasa yang berguna bagi komunitasnya. Andreas juga mendorong pemerintah daerah untuk serius menangani kondisi keluarga korban agar tragedi serupa tidak terulang.

Kepada aparat kepolisian, ia meminta agar dilakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap penyebab pasti kematian YBS serta memberikan kejelasan kepada publik.

Kasus ini kembali membuka luka lama tentang kemiskinan ekstrem, minimnya jaring pengaman sosial, dan lemahnya perlindungan psikososial bagi anak-anak di daerah rentan.