MAHATVA.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali membuat pernyataan mengejutkan terkait konflik dengan Iran. Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Selasa malam waktu setempat, Trump menyebut perang dengan Iran kemungkinan akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Mengutip laporan Agence France-Presse (AFP), Trump mengatakan Amerika Serikat akan “meninggalkan” Iran dalam waktu tersebut, dengan catatan bahwa Washington telah memastikan rezim Teheran tidak lagi mampu mengembangkan senjata nuklir yang selama ini dituding telah dirancang bertahun-tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Ruang Oval menjelang pidato nasional terkait Iran yang dijadwalkan pada Rabu (1/4/2026) malam waktu Washington, atau Kamis (2/4/2026) pagi waktu Indonesia.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan sikap yang berbeda. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki kemauan untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, namun dengan syarat adanya jaminan bahwa perang tidak akan kembali pecah di masa depan.

Pernyataan yang saling bertolak belakang ini memunculkan pertanyaan besar: siapa yang lebih dapat dipercaya, Trump atau Iran?

Dalam opini yang dimuat media Inggris The Guardian, penulis sekaligus mantan penulis pidato Gedung Putih era Presiden Bill Clinton, Ted Widmer, menilai Trump gagal membangun dukungan luas untuk perang melawan Iran, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

Menurut Widmer, alih-alih menyatukan sekutu, Trump justru memperkeruh situasi dengan berbagai pernyataan yang berisi ejekan dan ancaman.

“Ini adalah cara yang aneh untuk melancarkan perang, yang menjelaskan mengapa kemenangan masih terasa jauh setelah sebulan konflik berlangsung,” tulisnya.

Widmer juga menyoroti pentingnya konsistensi komunikasi seorang presiden dalam situasi perang. Ia membandingkan gaya Trump dengan tradisi presiden sebelumnya yang biasanya menyampaikan alasan perang melalui pidato resmi dan terstruktur dari Kantor Oval.