MAHATVA.ID – Founder Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (Vinus Indonesia), Yusfitriadi, menilai kebijakan Dedi Mulyadi yang meminta pelajar berjalan kaki ke sekolah sebagai langkah yang sangat rasional dan perlu didukung dengan kesadaran kolektif semua pihak.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan hanya soal kedisiplinan, tapi juga soal pendidikan karakter, kepatuhan hukum, dan kondisi sosial yang selama ini cenderung diabaikan.
“Sudah banyak kebijakan Dedi Mulyadi untuk pelajar dan sekolah, tapi kebijakan meminta pelajar berjalan kaki ke sekolah ini sangat masuk akal, tentu dengan beberapa penyesuaian terhadap kondisi sosial,” ujarnya.
Yusfitriadi menyoroti bahwa kebanyakan pelajar, bahkan di tingkat SD, kini terbiasa menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke sekolah. Kondisi itu, kata dia, telah dianggap hal biasa oleh masyarakat, aparat, dan pihak sekolah, padahal dari berbagai sisi justru berbahaya.
“Pertama, ini jelas melanggar hukum. Sebagian besar pelajar belum berusia 17 tahun dan tidak memiliki SIM, jadi mereka tidak layak membawa kendaraan bermotor,” ungkapnya.
Ia juga menilai fenomena ini menambah beban orang tua. Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga muncul karena anak menuntut dibelikan motor agar tak kalah dengan teman-temannya.
“Selain itu, membawa kendaraan bermotor membuat pelajar lebih mudah nongkrong, tawuran, atau berperilaku negatif lainnya. Juga memicu budaya pamer di kalangan siswa,” tuturnya.
Yusfitriadi menambahkan, banyak sekolah kini kehilangan ruang terbuka karena lahannya berubah menjadi tempat parkir motor. Padahal ruang tersebut semestinya digunakan untuk kegiatan bermain atau berolahraga.




