JAKARTA, MAHATVA.ID – Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur, Muhammad Sirod, menyoroti fenomena keterlibatan besar kalangan muda dalam aksi demonstrasi lima hari berturut-turut pada 25, 28, 29, 30, dan 31 Agustus 2025.

Menurutnya, keikutsertaan anak-anak usia belia, bahkan di bawah 18 tahun, menjadi tanda bahwa partisipasi politik Generasi Z dan Generasi Alpha—yang ia sebut sebagai Generasi Maya—semakin menonjol dalam dinamika sosial-politik tanah air.

“Generasi Maya ini adalah digital native sejati. Mereka menghabiskan waktu 4–6 jam sehari di internet, piawai membuat konten, dan sangat peduli citra di dunia maya. Namun sayangnya, keterlibatan mereka di jalanan lebih banyak karena efek euforia digital, dorongan spontan, bahkan provokasi yang dipicu konten disinformasi di TikTok atau media sosial lain,” jelas Sirod, Selasa (2/9/2025).

Sirod menilai, pola partisipasi politik generasi muda saat ini berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Jika dulu pentolan mahasiswa hadir dengan narasi perjuangan yang konsolidatif, maka kini banyak aksi massa dipengaruhi kehadiran selebritas media sosial yang lebih menjadi mood booster ketimbang penggerak isu.

“Mereka tidak suka digurui, lebih percaya pada apa yang mereka lihat di layar handphone. Influencer hadir, selfie, lalu posting, itu saja sudah memberi semangat. Jadi jangan heran jika demo terasa lebih seperti konten digital ketimbang perjuangan politik yang terorganisir,” lanjutnya.

Meski begitu, Sirod mengingatkan bahwa dampak negatif tidak bisa disepelekan. Konsumsi berlebihan media digital membuat Generasi Maya rentan mengalami konsentrasi pendek, pembelajaran dangkal, mudah terjebak misinformasi, hingga ikut-ikutan dalam tindakan anarkis karena pengaruh psikologi massa.

“Kita lihat sendiri, live TikTok di tengah demo bisa mencapai puluhan ribu penonton. Ada yang bahkan mendapat saweran dari akun judi online. Akhirnya aksi yang seharusnya idealis justru berubah jadi tontonan, narsis, dan kadang destruktif,” tegasnya.

Sirod mengapresiasi aparat kepolisian yang telah berupaya persuasif hingga akhirnya bertindak tegas. Namun, ia menekankan pentingnya pembelajaran hukum dan sanksi sosial agar generasi muda memahami batas partisipasi politik dalam kerangka demokrasi.

“Anak-anak ini harus didisiplinkan. Rekaman proses hukuman perlu disiarkan di platform yang mereka pakai agar jadi efek jera kolektif. Jangan sampai energi politik generasi muda habis dalam kemarahan spontan dan tindakan anarkis,” ujarnya.