MAHATVA.ID – Di tengah menguatnya dinamika politik nasional pasca terbentuknya pemerintahan baru, Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker) Afriansyah Noor melakukan langkah politik senyap dengan mendatangi kediaman pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/2/2026).
Pertemuan yang berlangsung tertutup itu terjadi di rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara, Sumber, Banjarsari, dan hanya berlangsung sekitar 20 menit. Meski singkat, pertemuan tersebut memantik spekulasi, mengingat Afriansyah saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, partai yang memiliki posisi strategis dalam konstelasi politik nasional pasca Pilpres 2024.
Afriansyah Noor tiba di lokasi sekitar pukul 11.11 WIB dan sempat menunggu di ruang transit di seberang rumah Jokowi sebelum akhirnya dipersilakan masuk. Tidak ada keterangan resmi dari pihak Jokowi terkait agenda pertemuan tersebut.
Kepada wartawan, Afriansyah mengakui pertemuan itu berlangsung secara tertutup. Ia menyebut agenda utama pertemuan sebagai silaturahmi dengan mantan atasannya di Kabinet Indonesia Maju, namun mengakui adanya diskusi ringan mengenai arah pemerintahan ke depan.
“Saya bersilaturahmi dengan Bapak Presiden ke-7 RI, Pak Joko Widodo, yang juga pernah menjadi pimpinan saya ketika saya menjabat Wakil Menteri Tenaga Kerja,” ujar Afriansyah.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena terjadi tak lama setelah Afriansyah menghadiri forum elite nasional yang digelar Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Pacitan melalui The Yudhoyono Institute, yang membahas isu perekonomian dan dinamika geopolitik global.
“Diskusi di Pacitan membahas perekonomian dan dinamika internasional. Tentu ini menjadi bekal penting bagi saya di pemerintahan,” kata Afriansyah.
Secara terbuka, Afriansyah memang menekankan nuansa personal dan nostalgia dalam pertemuan tersebut. Ia menyebut Jokowi memiliki kedekatan dengan keluarganya, bahkan pernah menjadi saksi pernikahan anak-anaknya. Namun di tengah transisi kekuasaan nasional, pertemuan tokoh pemerintahan aktif dengan mantan presiden tetap memunculkan tafsir politik yang lebih luas.
Afriansyah menegaskan harapannya agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat berjalan stabil hingga 2029. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa pertemuan tersebut tak sekadar nostalgia, melainkan juga sinyal komunikasi lintas poros kekuasaan.



