MAHATVA.ID - Pemerintah Israel mulai membuka akses lebih luas terhadap bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, menyusul tekanan internasional yang meningkat akibat memburuknya krisis kelaparan di wilayah tersebut. Dalam pernyataan resminya, militer Israel mengungkapkan bahwa enam negara telah menjatuhkan 110 paket bantuan tambahan melalui udara sejak akhir Juli 2025, menambah total menjadi 785 paket.

Negara-negara yang ikut serta dalam pengiriman bantuan udara itu meliputi Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Jerman, Belgia, dan Prancis, demikian dikutip dari laporan Al Jazeera, Selasa (5/8).

Meski bantuan tersebut dinilai sebagai langkah positif, sejumlah organisasi kemanusiaan menyebut bahwa metode pengiriman melalui udara tidaklah efisien dan menyimpan risiko tinggi. Mereka menegaskan bahwa jalur darat tetap menjadi cara paling efektif untuk menjangkau warga sipil yang terdampak.

Kendati Israel telah melonggarkan sebagian pembatasan pada Juli, jumlah bantuan yang diperbolehkan masuk, baik melalui udara maupun darat, dinilai masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar jutaan warga Gaza yang terjebak dalam konflik berkepanjangan.

Sementara itu, laporan dari media Amerika Serikat menyebutkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih penuh upaya penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Langkah ini disebut sebagai respons atas ketidakmampuan Israel dalam menangani krisis tersebut secara memadai.

Dalam pertemuan antara Utusan Khusus AS Witkoff dan Presiden Donald Trump pada Senin, seorang pejabat menyatakan bahwa Gedung Putih memutuskan untuk mengambil alih pengelolaan bantuan kemanusiaan karena dinilai lebih efektif dan mendesak. Meski Trump dilaporkan “tidak terlalu senang” dengan keputusan tersebut, seorang pejabat anonim menyebut langkah ini “harus diambil.”

Laporan tersebut juga menyoroti kekhawatiran dalam lingkaran pemerintahan Trump mengenai rencana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang diduga ingin memperluas perang dan merebut penuh Jalur Gaza di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.