Jakarta, MAHATVA.ID — Fungsionaris Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sekaligus Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Timur, Muhammad Sirod, menilai kunjungan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke Indonesia merupakan momentum strategis yang menandai kebangkitan hubungan dua benua besar: Asia dan Afrika.
Menurutnya, kunjungan tersebut bukan hanya sekadar agenda diplomatik biasa, melainkan simbol pergeseran geopolitik global di mana hegemoni Barat mulai memudar, dan negara-negara Asia-Afrika mulai tampil sebagai kekuatan baru dunia.
“Ketika Presiden Prabowo Subianto berada sejajar dengan para pemimpin besar seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong-un, dunia menyadari bahwa Indonesia kini bukan lagi pelengkap, tetapi penentu arah dalam isu perdamaian dan keadilan global,”
ujar Muhammad Sirod, Jumat (24/10/2025).
Sirod juga menyoroti posisi Afrika Selatan yang saat ini memegang presidensi G20, yang menurutnya menambah nilai strategis kunjungan tersebut.
“Ketika Afrika Selatan datang ke Jakarta, itu menunjukkan pengakuan atas posisi penting Indonesia di tengah poros Timur yang sedang menguat,” ucapnya.
Dalam pandangan Sirod, momentum kerja sama Indonesia–Afrika menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung yang digagas Presiden Soekarno pada tahun 1955.
“Dulu kita bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan politik. Kini kita bersatu untuk membangun kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Ia menilai potensi ekonomi Afrika sangat besar, terutama di sektor produk konsumsi, pangan olahan, dan retail modern.
Sebagai contoh, produk asal Indonesia seperti Indomie telah menjadi ikon kuliner di berbagai negara Afrika — simbol keberhasilan industri nasional menembus pasar global dengan adaptasi budaya yang cerdas.
“Model bisnis ritel seperti Alfamart juga bisa dikembangkan di Afrika. Bukan hanya untuk menjual barang, tetapi juga menularkan sistem logistik dan manajemen distribusi yang efisien,” jelas Sirod.

.png)