MAHATVA.ID – Program Tol Laut yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo sejak tahun 2015 bertujuan untuk membantu pemerataan ekonomi di wilayah pelosok. Namun, kenyataannya harga barang yang diangkut melalui Tol Laut di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, justru tidak selalu lebih murah seperti yang diharapkan masyarakat.
Menurut salah satu warga Saumlaki, Welvi, kenaikan harga barang ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti biaya transportasi yang meningkat, keterlambatan pengiriman barang, hingga spekulasi harga yang dilakukan oleh pedagang lokal.
"Program Tol Laut mestinya benar-benar membantu pemerataan ekonomi di pelosok, bukan menjadi lahan bisnis semata," ujar Welvi.
Hal senada juga disampaikan oleh Marni, warga lainnya. Ia menilai bahwa pedagang yang menggunakan jasa Tol Laut justru menjual barang dengan harga yang tinggi, sehingga manfaat dari program ini tidak dirasakan oleh masyarakat kecil.
"Pedagang perlu diawasi untuk mencegah spekulasi harga dan memastikan harga barang kebutuhan pokok tetap stabil di Saumlaki," tegas Marni.
Kondisi ini membuat masyarakat mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk melakukan pengawasan ketat terhadap harga barang yang menggunakan jasa Tol Laut. Selain itu, perlu adanya perjanjian yang jelas antara pemerintah dan pedagang terkait harga jual barang yang diangkut melalui Tol Laut, agar tujuan awal program ini untuk menekan disparitas harga dapat tercapai.
Program Tol Laut sejatinya bertujuan untuk mempermudah distribusi barang ke wilayah-wilayah terpencil dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, tanpa pengawasan yang ketat, program ini justru dimanfaatkan oleh oknum pedagang untuk mencari keuntungan pribadi.
Dengan pengawasan yang lebih baik, diharapkan harga barang di Saumlaki dapat kembali stabil dan manfaat Tol Laut benar-benar dirasakan oleh masyarakat. (Petu)




