MAHATVA.ID – Harga minyak dunia bergerak beragam pada awal pekan ini, Senin (23/3/2026), di tengah tarik-menarik sentimen antara eskalasi konflik geopolitik dan pelonggaran sanksi terhadap Iran yang berpotensi menambah pasokan global.
Harga minyak jenis Brent tercatat turun 41 sen atau 0,37% ke level US$111,78 per barel, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) justru naik tipis 11 sen atau 0,11% ke posisi US$98,34 per barel, melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya.
Selisih harga antara Brent dan WTI bahkan melebar hingga lebih dari US$14 per barel, menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
CEO platform trading Moomoo Australia, Michael McCarthy, menilai pelemahan harga minyak saat ini lebih dipengaruhi faktor teknikal jangka pendek, seperti rendahnya likuiditas serta aksi ambil untung oleh pelaku pasar.
“Namun secara momentum, tren kenaikan masih kuat. Uji level US$120 per barel sangat mungkin terjadi dalam pekan ini,” ujarnya.
Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Risiko
Situasi geopolitik kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Ancaman ini memperburuk eskalasi konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Menanggapi hal tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa infrastruktur energi di Timur Tengah berpotensi mengalami kerusakan permanen jika serangan benar-benar terjadi.
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai kondisi ini justru memperbesar peluang kenaikan harga minyak.




