MAHATVA.ID -Selat Oravruan yang membentang di antara Desa Kelaan, Kecamatan Tanimbar Utara, dan Desa Romean, Kecamatan Fordata, selama ini dikenal sebagai jalur penyeberangan yang berbahaya pada musim barat. Namun di balik arusnya yang ganas, wilayah ini justru menyimpan potensi ekonomi besar yang mulai dimanfaatkan masyarakat setempat.
Kepala Desa Kelaan, Henrison Baulu, mengungkapkan kepada wartawan MAHATVA.ID, Kamis (27/11/2025), bahwa Selat Oravruan memiliki kelimpahan ikan lolosi (Caesionidae) yang selama ini belum tersentuh secara optimal.
“Dalam empat kali penangkapan, masyarakat sudah memperoleh total 1.500 kilogram lolosi dan menghasilkan Rp12 juta. Hari ini harga meningkat dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram,” jelasnya.
Baulu menerangkan bahwa pada awalnya masyarakat belum memahami teknik penangkapan lolosi. Inisiatif datang dari Husein, mantan Babinsa Desa Kelaan tahun 2022, yang mendatangkan nelayan berpengalaman dari Seram Bagian Barat untuk memberi contoh metode penangkapan menggunakan jaring.
Upaya pertama gagal, namun kini masyarakat mulai mahir dan hasil tangkapan terus meningkat.
“Beberapa warga sudah menguasai teknik menjaring lolosi. Keterampilan ini harus ditularkan kepada warga lainnya agar semakin banyak masyarakat terlibat dan merasakan manfaat ekonomi,” kata Baulu.
Ia menyebutkan, pemerintah desa akan mendorong pemberdayaan melalui Dana Desa, khususnya pada program Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa pengadaan jaring, longboat, dan mesin tempel untuk memperkuat produksi nelayan lokal.
Wan Bugis, salah satu anggota kelompok nelayan lolosi, mengaku perubahan metode penangkapan membawa hasil jauh di atas ekspektasi.
“Sekali menjaring saja bisa menghasilkan jutaan rupiah. Hasilnya meningkat drastis,” ungkapnya dengan wajah gembira.




