MAHATVA.ID — Kebiasaan membentak atau meningkatkan nada suara kepada anak sering dipandang sebagai cara cepat untuk mendisiplin. Namun menurut sejumlah ahli psikologi, pendekatan tersebut dapat berdampak negatif terhadap perkembangan mental dan emosi anak.

Penyampaian Ahli

Walau belum selalu disebutkan secara spesifik oleh nama dalam sejumlah artikel, berbagai publikasi parenting menyebut bahwa tenaga profesional di bidang psikologi anak menolak bentakan sebagai strategi disiplin yang efektif.

Misalnya, dalam artikel “Membentak Anak Bukan Cara Efektif Ubah Perilaku” disebut bahwa membentak anak-anak dapat memengaruhi kehidupan mereka, dan bahwa “komunikasi damai dan tenang” jauh lebih efektif. 

Begitu juga di artikel “Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Tanpa Harus Memarahi & Membentak” dijelaskan bahwa ketangguhan anak justru terbentuk lewat koneksi hangat antara orang tua dan anak, bukan lewat bentakan atau hukuman keras.

Fakta dan Dampak

Beberapa penelitian dan ulasan menunjukkan sejumlah dampak negatif ketika anak sering dibentak :

  • Hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang; anak bisa merasa tidak dipahami atau tidak disayangi.
  • Bentakan dapat memicu mode “fight-or-flight” pada anak, sehingga bagian otak yang berfungsi belajar dan menerima koreksi menjadi tak aktif.
  • Dalam jangka panjang, anak yang sering dibentak dapat mengalami harga diri rendah, kecemasan, depresi, hingga masalah perilaku agresif atau sosial.
  • Bahkan terdapat temuan bahwa agresi verbal atau bentakan dalam rumah tangga dapat mengganggu perkembangan otak anak, terutama pada bagian yang memproses bahasa atau emosi.

Perspektif Praktis untuk Orang Tua